Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak menguat 76 poin atau 0,45 persen menjadi Rp16.820 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.896 per dolar AS
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan penguatan kurs rupiah mencerminkan respons pasar atas tekanan global yang mereda.
“Penguatan (rupiah) mencerminkan respons pasar terhadap meredanya tekanan global dalam jangka pendek, terutama dari pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Kendati begitu, lanjutnya, ruang penguatan rupiah masih terbatas karena pelaku pasar cenderung wait and see terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat dan dinamika sentimen global.
Baca juga: Rupiah menguat seiring isyarat AS tak serang Greenland secara militer
Baca juga: Rupiah pada Jumat pagi menguat jadi Rp16.847 per dolar AS
Secara global, rupiah dipengaruhi ekspektasi arah kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, serta kondisi geopolitik yang masih berpotensi mendorong sentimen risk-off.
Adapun sentimen dalam negeri, rupiah ditopang fundamental ekonomi yang relatif solid, inflasi terkendali, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Arus modal asing ke pasar obligasi domestik juga menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan rupiah,” ujar Taufan.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.838 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.902 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah menguat seiring Trump melunak terkait persoalan Greenland
Baca juga: Purbaya pastikan pergantian deputi BI bukan pemicu pelemahan rupiah
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































