Jakarta (ANTARA) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan penurunan porsi nominal simpanan berbunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) yang per akhir Desember 2025 mencapai 33 persen.
Adapun TBP yang saat ini masih berlaku yakni 3,50 persen untuk simpanan rupiah pada bank umum, dan 6,00 persen untuk simpanan rupiah pada BPR, serta 2,00 persen untuk TBP simpanan valas pada bank umum.
“Ada dua target yang kami lakukan. Pertama, menurunkan porsi nominal simpanan di atas TBP. Kedua, melakukan edukasi dan literasi untuk menarik nasabah usia produktif,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1) malam.
Anggito menjelaskan bahwa porsi simpanan berbunga di atas TBP sebelumnya sempat turun pada November 2025. Namun, kenaikan lazim terjadi pada Desember, seiring strategi perbankan mempertahankan dana nasabah serta meningkatnya minat pemilik dana mencari tambahan imbal hasil menjelang akhir tahun.
“Kami akan terus meminta kepada pihak bank supaya mengikuti suku bunga ataupun tingkat bunga penjaminan,” kata Anggito.
Per Desember 2025, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tercatat tumbuh membaik sebesar 13,83 persen (year-on-year/yoy) yang dikontribusikan terutama dari peningkatan aktivitas belanja pemerintah dan korporasi.
Namun, pada periode yang sama, kredit perbankan masih tumbuh di bawah DPK, yakni sebesar 9,63 persen (yoy). Kinerja kredit itu terutama ditopang penyaluran kredit investasi yang tinggi.
Anggito mengamini bahwa likuiditas perbankan saat ini cukup melimpah, sehingga akan mengurangi biaya dana (cost of fund). Sementara kredit yang masih tumbuh satu digit, salah satunya disebabkan oleh transmisi suku bunga kebijakan (BI-Rate) yang belum signifikan.
“Kenapa penyaluran kredit di bawah 10 persen? Pertama, suku bunga deposito turun, tetapi suku bunga kreditnya belum turun seperti yang diharapkan. Yang kedua, tentu transmisinya masih ada gangguan,” katanya.
Selain itu, pertumbuhan kredit yang masih berada di bawah DPK juga didorong oleh masalah permintaan. Anggito mengingatkan bahwa permintaan kredit yang belum kuat itu terlihat dari undisburshed loan yang masih cukup tinggi.
LPS mencatat, suku bunga pasar (SBP) simpanan rupiah konsisten menunjukkan penurunan secara bertahap. Pada periode observasi Januari 2026, SBP rupiah tercatat turun 5 basis poin (bps) ke level 3,14 persen.
Tren penurunan SBP itu sejalan dengan kondisi likuiditas yang tetap longgar dan arah kebijakan moneter yang akomodatif.
Pada periode yang sama, SBP simpanan valas juga menunjukkan penurunan. Berdasarkan observasi Januari 2026, SBP simpanan valas terpantau turun 12 bps ke level 2,79 persen.
“Mencermati tren SBP tersebut, LPS akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan otoritas terkait dalam upaya mendorong transmisi suku bunga kebijakan moneter ke suku bunga simpanan,” kata Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS Ferdinan D Purba.
Adapun LPS melalui rapat Dewan Komisioner pada Senin (19/1), telah melakukan evaluasi dan penetapan atas tingkat bunga penjaminan (TBP) yang akan berlaku sejak 1 Februari sampai dengan 31 Mei 2026.
TBP simpanan dalam rupiah di bank umum dan BPR, serta TBP simpanan dalam valuta asing (valas) di bank umum diputuskan untuk tetap atau tidak berubah dari penetapan periode sebelumnya pada September 2025, masing-masing sebesar 3,50 persen, 6,00 persen, dan 2,00 persen.
Ferdinan menjelaskan bahwa TBP yang tidak berubah karena mempertimbangkan tingkat SBP simpanan rupiah dan valas yang masih dalam tren menurun serta TBP yang berlaku masih sejalan dengan arah kebijakan makroekonomi dalam mendorong momentum pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pertimbangan lainnya yakni jumlah simpanan di perbankan tumbuh positif dengan kondisi likuiditas perbankan yang longgar serta tingkat cakupan penjaminan simpanan berada di level yang terjaga atau berada jauh di atas mandat undang-undang yang sebesar 90 persen.
Per Desember 2025, jumlah rekening nasabah bank umum yang seluruh simpanannya dijamin mencapai 99,94 persen dari total rekening atau setara dengan 665,05 juta rekening.
Sedangkan jumlah rekening nasabah BPR-BPRS yang seluruh simpanannya dijamin mencapai 99,97 persen dari total rekening atau setara dengan 15,67 juta rekening.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































