Respons Pidato Prabowo di Davos, Politisi Gerindra Sebut Kritik Bentuk Kedewasaan Politik

1 week ago 26
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, angkat suara merespons pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum beberapa waktu lalu.

Aziz menyebut pidato tersebut patut dipahami sebagai penegasan arah, bukan sekadar penampilan simbolik di panggung global. Di tengah dunia yang kian gaduh oleh konflik geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan krisis kepercayaan, pilihan Indonesia untuk berbicara tentang stabilitas, perdamaian, dan disiplin ekonomi mencerminkan sikap rasional yang semakin langka.

Dia menunjukkan sebagian kritik yang muncul memang bernada keras dan personal. Dalam spektrum ini, pidato lebih sering dibaca melalui sosok yang berbicara ketimbang substansi yang ditawarkan.

Menurut dia, posisi berseberangan diambil sejak awal, ruang dialog menyempit, dan kebijakan kehilangan kesempatan untuk diuji secara jernih. Namun pola seperti ini tidak sepenuhnya mencerminkan suara publik secara utuh. “Ia lebih merekam kegelisahan yang belum menemukan saluran rasionalnya,” kata Azis kepada media di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Di bawah lapisan resistensi tersebut, terdapat sikap publik lain yang jauh lebih menentukan yaitu kewaspadaan yang disertai harapan. Mereka mendengar, mencatat, lalu menunggu.

Dia mengatakan, bukan menunggu pidato lanjutan, melainkan menunggu apakah arah yang dinyatakan benar-benar diterjemahkan menjadi kerja yang terasa. “Sikap ini bukan sinisme, melainkan bentuk kedewasaan politik,” tutur dia.

Dalam konteks inilah, kata Azis, pidato Davos menemukan relevansinya. Ia tidak menawarkan keajaiban, tetapi menegaskan fondasi stabilitas sebagai prasyarat pertumbuhan, disiplin fiskal sebagai basis kepercayaan, dan ekonomi yang berpijak pada kepentingan rakyat.

“Pesan ini penting, bukan hanya bagi audiens global, melainkan juga bagi publik domestik yang di masa sebelumnya lebih sering menyaksikan jarak antara janji dan hasil,” ujar Azis.

Dia mengatakan, yang kerap luput dari pembacaan kritis adalah bahwa ketegasan dalam pidato tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Banyak pernyataan Prabowo yang semula disangsikan justru perlahan menemukan bentuknya dalam tindakan.

Penertiban kawasan hutan yang selama bertahun-tahun dibiarkan, pencabutan izin pemanfaatan hutan bagi pihak yang lalai, hingga pencabutan bahkan perampasan tambang yang melanggar hukum tanpa pandang bulu—semuanya berjalan.

Termasuk langkah penegakan hukum terhadap koruptor yang sebelumnya seolah kebal. Sebelum berbicara tegas di forum internasional, bukti-bukti itu telah lebih dulu hadir: tidak riuh, tidak selalu disorot, tetapi bergerak pelan dan pasti. “Kesenyapan kerja inilah yang kerap tidak terbaca, padahal justru menjadi fondasi legitimasi,” kata dia.

Karena itu, Azis menilai pidato ini seharusnya dibaca sebagai kelanjutan dari proses pembuktian kinerja, bukan sekadar awalnya. Legitimasi hari ini tumbuh dari kesinambungan antara kata dan tindakan.

“Ketika kerja sama internasional berujung pada investasi yang benar-benar berjalan, ketika lapangan kerja tercipta, ketika ketahanan pangan dan energi diperkuat, maka arah yang disampaikan di Davos memperoleh maknanya yang nyata,” ujar dia.

Dia mengatakan keraguan yang muncul tidak perlu dihadapi dengan defensif. Ia dijawab dengan konsistensi kerja. Harapan yang tersisa tidak dipelihara dengan slogan baru, melainkan dengan hasil yang bisa dirasakan.

“Publik yang waspada justru menyediakan ruang legitimasi paling sehat—karena kepercayaan yang lahir dari pembuktian akan jauh lebih kokoh daripada kepercayaan yang diminta,” kata dia.

Read Entire Article