Ruas Jalan Raya Dayeuhkolot, tepatnya di depan Kantor Pos Dayeuhkolot, Kampung Bolero, memakan korban jiwa.
Seorang mahasiswi, Delia Apriliandita (22 tahun), tewas terlindas truk setelah terjatuh dari sepeda motor yang dikendarainya. Ban motornya terpeleset akibat beda tinggi jalan.
Pantauan kumparan di lokasi, terdapat beberapa lubang pada bagian badan jalan. Ada lubang cukup dalam juga di bagian bahu jalan.
Lubang tersebut berada di area peralihan antara badan jalan dan bahu jalan, sehingga sulit terlihat terutama saat arus lalu lintas padat dan apabila ada kendaraan yang terparkir di pinggir jalan.
Jalur Padat
Intensitas kendaraan besar yang melintasi Jalan Dayeuhkolot cukup tinggi. Dengan ruas jalan yang tidak terlalu lebar dan volume kendaraan yang tinggi pada jam-jam tertentu, seperti pagi dan sore hari, membuat kemacetan di jalan tersebut tak terelakkan.
Saksi Mata
Didi, warga Dayeuhkolot, melihat langsung kejadian tragis itu di depan mata, bahkan diperkuat dengan rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi.
Menurut Didi, sebelum kecelakaan terjadi, korban terlihat melaju dari pinggir jalan dan diduga masuk ke lubang yang berada di badan jalan. Akibatnya, korban terjatuh bersamaan dengan datangnya kendaraan truk dari arah yang sama.
“Awalnya dari pinggir, set (memperagakan motor), masuk lubang itu, jatuhnya sekaligus. Nah, pas jatuh itu, truk datang masuk. Banyak yang lihat, termasuk saya,” ujar Didi saat ditemui di sekitar lokasi kejadian.
Didi mengaku terkejut dan tak mampu berbuat apa-apa saat kejadian berlangsung. Ia hanya bisa terdiam menyaksikan detik-detik korban terlindas kendaraan besar tersebut.
Bukan yang Pertama
Tragedi ini, menurut Didi, bukanlah yang pertama terjadi di ruas jalan tersebut. Ia menyebut, sejak dirinya kecil hingga kini, sudah beberapa kali kecelakaan fatal merenggut nyawa di lokasi yang tak jauh berbeda.
“Secara pribadi saya malu. Malu dengan apa yang terjadi di jalan raya umum ini. Saya tahu persis, dari dulu saya di sini, dari kecil saya di sini. Kejadian orang meninggal itu sudah beberapa kali,” ungkapnya.
Ia merinci, korban jiwa pertama terjadi di sisi jalan tak jauh dari lokasi sekarang. Kecelakaan kedua terjadi di depan area pertokoan, kembali menelan korban meninggal dunia.
Peristiwa ketiga terjadi di dekat jembatan akibat kondisi jalan yang licin diduga karena pasir. Selanjutnya, seorang pelajar SMP yang dikenal warga dengan sebutan “Néng Geulis” juga meninggal dunia akibat terjatuh dan terlindas kendaraan.
Pasca kejadian, Didi menyebutkan bahwa pada keesokan harinya sempat muncul rencana aksi dari sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan perwakilan dari tingkat kabupaten. Aksi tersebut disebut sebagai bentuk keprihatinan sekaligus desakan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata.
Namun demikian, Didi menilai penanganan persoalan keselamatan jalan di kawasan tersebut tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Ia menekankan perlunya musyawarah menyeluruh dan penataan ulang infrastruktur jalan.

2 hours ago
1







































