Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun berharap, Bank Indonesia (BI) dapat terus menjaga nilai tukar rupiah pada level moderat yang mencerminkan penguatan nilai dan kapasitas ekonomi Indonesia.
“Tentunya, menjaga stabilitas itu memang bukan pekerjaan yang mudah. Tetapi Indonesia adalah negara yang ekonominya sangat stabil,” kata Misbakhun saat dijumpai media usai kegiatan "Penyerahan Dana Korban Scam oleh IASC" di Gedung AA Maramis, Jakarta, Rabu.
Dia mengingatkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang stabil pada kisaran 4,8 hingga 5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di samping itu, tingkat inflasi juga tetap terjaga rendah.
Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia tetap kuat, ditopang oleh surplus transaksi berjalan dan neraca perdagangan yang positif. Seluruh arus neraca pembayaran juga menunjukkan posisi yang sehat, mencerminkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Baca juga: BI tingkatkan intensitas stabilisasi guna menjaga nilai tukar rupiah
“Apa yang dikhawatirkan dari Indonesia? Fundamental kita kuat. Yang terjadi adalah sebuah sentimen-sentimen yang menurut saya memang harus diberikan penguatan kepada pasar,” kata Misbakhun.
Ketika ditanya mengenai pengaruh pergantian Deputi Gubernur BI terhadap pergerakan nilai tukar, dia menilai pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini tidak berhubungan dengan dinamika tersebut.
“Bagaimanapun juga figur-figur penggantian Deputi Gubernur Bank Sentral itu adalah kewenangan Gubernur Bank Sentral untuk mengajukan kepada Presiden sebagai Kepala Negara,” kata Misbakhun.
Untuk diketahui, BI melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari 2026 telah memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen.
Baca juga: Rupiah menguat seiring ancaman tarif Trump kepada Eropa
BI menyampaikan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.
Suku bunga yang tetap bertahan kali ini melanjutkan kebijakan yang tidak berubah sejak September 2025. Sebelumnya, BI telah memangkas bunga acuan sebanyak lima kali sejak awal 2025, masing-masing sebesar 25 bps, sehingga total penurunan mencapai 125 bps.
Nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 tercatat sebesar Rp16.945 per dolar AS, melemah 1,53 persen (point to point/ptp) bila dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.
Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca juga: Ekonom: Pembalikan tren pelemahan rupiah terbuka dengan tiga syarat
Selain itu, kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi turut mempengaruhi kinerja rupiah.
Guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI pun menempuh intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar offshore NDF (non-delivery forward), DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
BI memprakirakan, rupiah akan stabil dengan kecenderungan menguat didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Adapun Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2025 diprakirakan tetap baik ditopang neraca perdagangan yang pada November 2025 kembali mencatat surplus sebesar 2,7 miliar dolar AS. Sementara posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar 156,5 miliar dolar AS.
Baca juga: Rupiah dekati Rp17 ribu, ekonom nilai BI perlu perkuat pasokan valas
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































