Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) meyakini bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan pada tahun 2026 tetap baik, dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran defisit 0,9-0,1 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Namun dari sisi neraca transaksi modal dan finansial, meningkatnya ketidakpastian keuangan global mendorong aliran keluar modal asing pada investasi portofolio yang hingga 19 Januari 2026 mencatat net outflows sebesar 1,6 miliar dolar AS.
“Sehubungan dengan itu, perlu penguatan respons kebijakan guna tetap menjaga ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Rabu.
Perry mengatakan, Neraca Pembayaran Indonesia perlu terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
NPI triwulan IV 2025 diprakirakan tetap baik, ditopang neraca perdagangan yang pada November 2025 kembali mencatat surplus sebesar 2,7 miliar dolar AS didukung oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam seperti logam mulia dan perhiasan/permata, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.
Sementara itu, aliran modal triwulan IV 2025 mencatat net inflows terutama ditopang kenaikan cukup tinggi pada Desember 2025 yang bersumber dari penerbitan global bond, setelah sebelumnya pada Oktober dan November 2025 tercatat rendah sejalan dengan ketidakpastian global yang masih tinggi.
Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 tercatat meningkat menjadi sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Dengan perkembangan ini, NPI 2025 diprakirakan tetap berdaya tahan dengan transaksi berjalan yang masih sehat dalam kisaran defisit 0,5 persen sampai dengan surplus 0,3 persen dari PDB,” kata Perry.
Baca juga: Fokus stabilisasi rupiah, BI pertahankan BI-Rate di level 4,75 persen
Baca juga: BI yakin ekonomi 2026 tumbuh 4,9-5,7 persen, ditopang demand domestik
Baca juga: BI tingkatkan intensitas stabilisasi guna menjaga nilai tukar rupiah
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































