Jakarta (ANTARA) - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan bahwa menjaga kredibilitas fiskal melalui pengelolaan defisit dan utang yang prudent, akan menjaga stabilitas nilai tukar (kurs) rupiah dari guncangan di tingkat global.
Selain itu, upaya tersebut perlu didukung oleh konsistensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas moneter dengan komunikasi kebijakan yang jelas dan independen.
“Sinergi ini perlu diperkuat dengan intervensi pasar yang terukur serta upaya struktural untuk memperkuat sektor eksternal, agar rupiah tidak hanya stabil secara jangka pendek, tetapi juga lebih tahan terhadap guncangan ke depan,” ujar Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Rizal Taufiqurrahman dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ia memproyeksikan rupiah masih akan berada dalam fase tekanan dan volatilitas tinggi, yang mana pelemahan yang terjadi mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik, bukan semata pelemahan fundamental ekonomi.
Selama ketidakpastian global masih kuat dan arus modal asing belum sepenuhnya stabil, menurut dia, rupiah cenderung bergerak dalam kisaran yang rentan melemah, meskipun peluang stabilisasi tetap terbuka kepercayaan pasar membaik.
“Dengan kata lain, tekanan masih berlanjut, risiko pelemahan menengah tetap ada, target APBN sekitar Rp16.500 per dolar AS, kemungkinan menuju dekat Rp17.000 per dolar AS,” ujar Rizal.
Dari mancanegara, Ia menjelaskan sentimen yang mempengaruhi rupiah, di antaranya arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, penguatan dolar AS, serta risiko eskalasi geopolitik di tingkat global.
Sementara dari dalam negeri, Ia menjelaskan persepsi pasar terhadap disiplin fiskal, dinamika pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta konsistensi dan independensi kebijakan moneter BI sangat menentukan kepercayaan investor.
“Kombinasi faktor-faktor inilah yang membentuk volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek hingga menengah,” ujar Rizal.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak menguat 76 poin atau 0,45 persen menjadi Rp16.820 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.896 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.838 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.902 per dolar AS.
Baca juga: Pakar dorong strategi non-moneter untuk bantu stabilitas rupiah
Baca juga: Rupiah menguat jadi cermin respons pasar atas meredanya tekanan global
Baca juga: Rupiah pada Jumat pagi menguat jadi Rp16.847 per dolar AS
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






































