Jakarta (ANTARA) - Pernahkah merasa kurang percaya diri karena salah satu atau kedua mata sayu atau terlihat “ngantuk” sepanjang hari?
Jika dikompres air dingin dan istirahat cukup tidak mengubah kondisi mata, Anda perlu mengenal kondisi medis yang disebut dengan ptosis.
Apa itu ptosis?
Melansir berbagai sumber kesehatan, ptosis atau blefaroptosis adalah kondisi medis di mana kelopak mata bagian atas merosot atau turun dari posisi normalnya.
Kondisi ini bisa terjadi pada salah satu mata ataupun kedua mata sekaligus. Meski tidak menimbulkan rasa sakit, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menjadi indikasi gangguan serius pada saraf, otak, ataupun rongga mata, terutama jika muncul secara tiba-tiba.
Berdasarkan jarak penurunan kelopak mata dari posisi normal, ptosis ini dikategorikan menjadi tiga:
- Ringan (±2 mm): Pupil tertutup sedikit dan biasanya belum mengganggu penglihatan secara signifikan.
- Sedang (3–4 mm): Sebagian pupil tertutup sehingga mulai menghalangi pandangan.
- Berat (>4 mm): Kelopak menutupi hampir seluruh pupil. Pada tahap ini, penderita sering mendongakkan dagu atau mengangkat alis demi bisa melihat dengan jelas.
Di samping hal tersebut, kondisi ini bisa terjadi sejak lahir (kongenital) maupun berkembang seiring bertambahnya usia akibat melemahnya otot levator (pengangkat kelopak mata).
Selain faktor penuaan, American Academy of Ophthalmology (AAO) juga mencatat bahwa ptosis juga dapat dipicu oleh kerusakan saraf yang mengendalikan otot mata atau adanya kelebihan kulit pada kelopak.
Penyebab Ptosis
Penyebab ptosis dapat dikelompokkan menjadi beberapa faktor, yakni:
1. Faktor penuaan (involusional): Penyebab paling umum di mana tendon otot levator meregang secara alami seiring bertambahnya usia, membuat kelopak mata merosot.
2. Faktor bawaan (kongenital): Bayi yang lahir dengan perkembangan otot levator yang tidak sempurna. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko menyebabkan mata malas (amblyopia) pada anak.
3. Kondisi medis dan penyakit:
- Gangguan neurologis: Stroke, tumor otak, aneurisma, myasthenia gravis, dan sindrom Horner yang merusak jalur saraf ke mata.
- Penyakit istemik: Diabetes dan distrofi otot.
- Masalah lokal: Infeksi, tumor di rongga mata, atau pembengkakan seperti bintitan (timbilan).
4. Trauma dan efek samping medis:
- Cedera langsung pada area mata atau saraf.
- Komplikasi pasca-operasi mata, seperti katarak atau lasik akibat otot yang tertarik.
- Efek samping penyuntikan Botox di area sekitar mata.
5. Gaya hidup: Penggunaan lensa kontak dalam jangka waktu yang sangat lama juga dapat meregangkan jaringan kelopak mata, sehingga menyebabkan ptosis.
Cara pengobatan Ptosis
Tujuan utama perawatan ptosis adalah memperbaiki fungsi penglihatan dan estetika wajah itu sendiri. Langkah pengobatan bergantung pada penyebab, usia pasien, ataupun tingkat keparahan kondisi tersebut.
1. Proses diagnosis
Dokter mata akan melakukan evaluasi riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik untuk menentukan penyebabnya. Jika ptosis dipicu oleh penyakit sistemik (seperti gangguan saraf atau myasthenia gravis), maka dokter akan memberikan pengobatan medis sesuai penyakit dasarnya atau merujuk pasien ke dokter spesialis terkait.
2. Tindakan bedah (operasi)
Operasi menjadi solusi utama jika ptosis sudah menghalangi pandangan atau demi alasan kecantikan. Prosedur ini biasanya dilakukan dengan bius lokal melalui dua teknik:
- Sayatan kulit luar: Dokter mencari otot pengangkat kelopak mata melalui lipatan kulit, lalu mengencangkannya dengan jahitan.
- Teknik tanpa sayatan luar: Pengencangan otot dilakukan dengan membalik kelopak mata dan mengerjakannya dari bagian bawah, sehingga tidak ada bekas luka di kulit.
3. Penanganan pada anak-anak
Pada kasus bawaan (kongenital), operasi sering kali harus dilakukan sedini mungkin. Hal ini penting untuk mencegah komplikasi permanen seperti mata malas (amblyopia) atau mata juling yang dapat memperburuk penglihatan di masa pertumbuhan sang anak.
4. Alternatif non-bedah
Bagi pasien yang tidak bisa menjalani operasi atau yang kondisi ptosis bersifat sementara, penggunaan kacamata khusus dengan penyangga (ptosis crutch) juga dapat menjadi solusi untuk menahan kelopak mata tetap terbuka.
Baca juga: Riasan mata bisa jadi penyebab tersembunyi masalah kesehatan mata
Baca juga: Masalah mata kering bisa dipicu hormon selama menopause
Baca juga: Masalah mata kering dengan autoimun rentan dialami usia muda
Pewarta: Putri Atika Chairulia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

13 hours ago
1




































