Jakarta (ANTARA) - Penyakit autoimun merupakan kondisi kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sehat. Meski belum sepenuhnya dapat disembuhkan, risiko kekambuhan dan keparahan gejala autoimun dapat ditekan dengan langkah pencegahan serta penanganan yang tepat.
Mulai dari menjaga pola hidup sehat hingga mengenali cara mengelola gejala sejak dini, pemahaman yang baik tentang cara mencegah dan mengatasi autoimun berperan penting dalam menjaga kualitas hidup penderitanya.
Berikut ini adalah beragam cara untuk mencegah dan mengatasi autoimun, berdasarkan informasi yang telah dihimpun dari berbagai sumber.
Cara mencegah autoimun
1. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
Pola makan yang seimbang berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh tetap stabil. Pilihlah makanan yang kaya antioksidan, vitamin, mineral, protein, asam lemak omega-3, serta serat, seperti buah, sayuran, ikan, telur, dan kacang-kacangan.
Asupan nutrisi tersebut membantu menekan peradangan, mendukung perbaikan sel, serta menjaga berat badan tetap ideal, sehingga menjadi langkah sederhana namun efektif dalam menurunkan risiko autoimun.
2. Mengelola stres dengan baik
Stres yang berlangsung lama dapat mengganggu keseimbangan tubuh dan melemahkan daya tahan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit autoimun. Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan baik, misalnya dengan mengatur waktu istirahat, melakukan relaksasi, atau menjalani aktivitas yang membantu menenangkan pikiran.
3. Memenuhi kebutuhan istirahat
Tidur yang cukup, sekitar 7–9 jam setiap malam, sangat dibutuhkan untuk menjaga fungsi sistem imun. Saat tidur, tubuh melakukan proses pemulihan serta mengatur kembali kerja hormon dan sel kekebalan. Pola tidur yang teratur dan berkualitas membuat tubuh lebih siap menghadapi stres dan faktor pemicu autoimun.
4. Rutin beraktivitas fisik
Melakukan olahraga ringan hingga sedang secara rutin, seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau senam selama sekitar 30 menit per hari, dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung, memperbaiki metabolisme, serta mengurangi peradangan. Aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga berat badan agar tetap ideal dan mendukung kestabilan sistem imun.
5. Menghindari rokok dan membatasi alkohol
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat memicu peradangan serta merusak sel-sel tubuh. Zat berbahaya yang terkandung di dalamnya juga dapat mengganggu keseimbangan sistem kekebalan, sehingga meningkatkan risiko gangguan autoimun. Menghindari kedua kebiasaan ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk menjaga respons imun tetap terkendali.
6. Menjaga berat badan tetap ideal
Berat badan yang terjaga membantu mengurangi beban kerja tubuh dan menekan peradangan kronis. Dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang teratur, berat badan ideal dapat dipertahankan sehingga kesehatan sistem imun tetap optimal
Cara penanganan autoimun
Sampai saat ini, penyakit autoimun memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Meski demikian, gejalanya dapat dikendalikan melalui penggunaan obat-obatan dan berbagai terapi pendukung. Berikut beberapa pilihan penanganan yang umumnya dilakukan untuk membantu mengelola penyakit autoimun.
1. Obat antiinflamasi
Obat antiinflamasi digunakan untuk meredakan peradangan dan nyeri yang sering menyertai penyakit autoimun. Kortikosteroid biasanya diresepkan untuk mengatasi peradangan dan gejala akut, sedangkan obat pereda nyeri seperti parasetamol atau kodein dapat membantu mengurangi rasa sakit.
2. Obat imunosupresan
Pada penderita autoimun, sistem kekebalan tubuh bekerja secara berlebihan hingga menyerang jaringan sehat. Oleh karena itu, dokter dapat meresepkan obat imunosupresan untuk menekan aktivitas sistem imun. Dalam kondisi tertentu yang lebih berat, terapi imunosupresi dengan dosis tinggi mungkin diperlukan dan dilakukan di bawah pengawasan ketat dokter.
3. Terapi fisik
Beberapa jenis autoimun dapat mempengaruhi fungsi gerak tubuh, sehingga penderitanya mengalami keterbatasan dalam beraktivitas. Contohnya pada artritis reumatoid, di mana sendi dapat mengalami pembengkakan, kekakuan, nyeri, hingga perubahan bentuk. Pada kondisi seperti ini, fisioterapi yang dikombinasikan dengan pengobatan bertujuan membantu menjaga fungsi sendi sekaligus memperlambat perkembangan penyakit.
4. Tindakan operasi
Pada kasus tertentu, ketika pengobatan tidak memberikan hasil yang optimal, tindakan bedah dapat menjadi pilihan. Misalnya pada penyakit Crohn untuk mengatasi sumbatan usus, sindrom Sjogren yang menyerang kelenjar penghasil air mata dan air liur, atau spondilitis ankilosa yang mempengaruhi pergerakan tubuh. Meski demikian, operasi umumnya dilakukan pada kondisi tertentu dan relatif jarang.
5. Pola makan sehat dan olahraga teratur
Selain terapi medis, penerapan gaya hidup sehat juga memegang peranan penting dalam penanganan autoimun. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan berolahraga secara rutin dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, mengurangi keluhan, serta mendukung fungsi otot dan sendi, terutama pada jenis autoimun yang mempengaruhi sistem gerak.
Baca juga: Apa penyebab terjadinya penyakit autoimun? Ini faktor risikonya
Baca juga: Makanan yang harus dihindari dan dianjurkan untuk gangguan autoimun
Baca juga: Jenis-jenis penyakit autoimun yang perlu dikenali sejak dini
Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
9



































