Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Kamis (29/1) mengatakan berencana menggelar perundingan dengan Iran.
“Saya telah melakukan pembicaraan dengan Iran dalam beberapa hari terakhir, dan saya berencana melanjutkannya,” kata Trump kepada para wartawan di Kennedy Center.
Trump kembali menegaskan bahwa saat ini banyak kapal yang sangat besar dan sangat kuat tengah berlayar menuju Iran.
“Akan sangat baik jika kita tidak perlu menggunakannya,” ujarnya.
Saat ditanya pesan apa yang ia sampaikan kepada Iran, Trump mengatakan dirinya menyampaikan dua hal. Pertama, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kedua, Iran harus menghentikan pembunuhan terhadap para demonstran.
Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan AS siap menggunakan semua opsi untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, seraya menegaskan bahwa Washington masih membuka peluang tercapainya kesepakatan diplomatik.
Hegseth menyatakan, ketika Presiden Trump menegaskan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, pernyataan itu disampaikan dengan sungguh-sungguh.
Ia mencontohkan pengiriman pesawat pengebom B-2 ke berbagai belahan dunia tanpa terdeteksi, serta kebijakan keras terhadap perdagangan narkotika, sebagaimana perlakuan terhadap al-Qaeda di kawasan Barat yang, menurutnya, dijalankan sesuai perintah presiden. Ia juga menyebut peran militer dalam pengamanan perbatasan bersama Departemen Keamanan Dalam Negeri sebagai bukti pelaksanaan arahan presiden.
Menurut Hegseth, pendekatan serupa diterapkan terhadap Iran saat ini, yakni memastikan semua opsi tersedia agar Teheran bersedia mencapai kesepakatan dan tidak mengejar kemampuan nuklir. Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam rapat kabinet bersama Trump.
Hegseth menegaskan Pentagon siap melaksanakan setiap arahan yang dikeluarkan Trump, menandakan bahwa opsi militer tetap terbuka jika jalur diplomasi gagal.
“Kami akan siap memberikan apa pun yang diharapkan presiden dari Departemen Perang, seperti yang kami lakukan bulan ini,” ujarnya, merujuk pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada 3 Januari.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Iran: Trump dapat memicu perang, tapi hasil akhir bisa tak terkendali
Baca juga: Uni Eropa perluas sanksi terhadap Iran atas HAM dan mendukung Rusia
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

5 days ago
11






































