Di trailer, Luna Maya sebagai pemeran utama memerankan sosok ikonik Suzzanna dengan transformasi yang jauh lebih kelam dan penuh dendam.
Berbeda dengan dua film sebelumnya di mana Suzzanna jadi Sundel Bolong atau Kutilanak, film terbaru ini menyajikan perjalanan spiritual Suzzanna sebagai manusia yang terjebak dalam kegelapan.
Dendam membara di hati Suzzanna setelah ayahnya tewas akibat santet kiriman Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang rakus. Hal ini yang mendorong Suzzanna untuk menyeberang ke jalur hitam demi membalas sakit hatinya.
"Di film ini, saya seperti bangkit kembali dari sebuah kekuatan gelap. Suzzanna di film ini mengalami penindasan dan kekejaman dari seorang penguasa desa. Dengan dendamnya, ia mempelajari ilmu santet," ungkap Luna Maya lewat keterangan resmi.
Luna menambahkan, peran kali ini memberikan kesan yang sangat berbeda.
"Tentu sangat berbeda dari peran saya sebagai Suzzanna di dua film sebelumnya, dan ini akan menjadi sejarah baru," tutur Luna.
Kisah Suzzanna di film ini semakin menarik dengan kehadiran Pramuja (Reza Rahadian), seorang pria taat agama yang mencintai Suzzanna.
Penonton akan diajak melihat pergolakan batin Suzzanna: apakah menuntaskan dendamnya dengan ilmu hitam, atau memilih cinta dan kembali ke jalan yang benar?
Reza Rahadian mengaku antusias bergabung dalam proyek ini karena kedalaman karakternya.
"Ini adalah universe yang baru lagi dari IP Suzzanna dan sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya. Komposisi ceritanya membuat saya tertarik untuk memerankan karakter Pramuja, laki-laki yang taat agama dan bersinggungan dengan Suzzanna yang mempelajari ilmu santet. Itu adalah dua sisi yang sangat menarik untuk diikuti," ujar Reza.
Salah satu yang paling dinanti adalah tampilan visual Suzzanna yang semakin sempurna. Soraya Intercine Films tidak hanya mengandalkan make up prostetik, tetapi juga menggunakan teknologi CGI mutakhir.
Tim produksi melakukan riset mendalam dari arsip film asli Suzzanna untuk membuat CG base mesh wajah. Kemudian, arsip itu diaplikasikan secara frame by frame pada wajah Luna Maya di tahap pasca-produksi.
Tujuannya agar emosi Luna Maya tetap terpancar meski dalam wajah Suzzanna yang otentik.
"Film ini menampilkan sebuah cerita tentang penindasan dari orang yang berkuasa, bagaimana manusia yang berdosa dan tidak berdosa di tengah kekuasaan yang ada. Itu sangat relevan dengan situasi sekarang," jelas Sunil Soraya.

5 days ago
6






































