Jakarta (ANTARA) - Menjelang akhir 2025, perhatian pasar global kembali tertuju pada emas. Bukan karena satu peristiwa tunggal, melainkan akumulasi sinyal yang datang dari berbagai arah.
Inflasi di sejumlah negara maju memang mulai melambat, tetapi belum sepenuhnya kembali ke kisaran yang dianggap aman oleh bank sentral.
Di saat yang sama, perbedaan langkah kebijakan moneter antarnegara besar semakin terlihat dan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam membaca arah suku bunga dan nilai tukar.
Situasi itu terasa jelas pada Desember 2025, ketika Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.
Dalam pernyataan resminya, otoritas moneter Amerika Serikat menyoroti tekanan harga di sektor jasa yang dinilai masih belum sepenuhnya mereda, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan ketahanan pertumbuhan ekonomi.
Beberapa pekan kemudian, perhatian pasar beralih ke Eropa, di mana dinamika ekonomi kawasan menjadi sorotan tersendiri.
Bank Sentral Eropa mulai memberi sinyal bahwa ruang pelonggaran kebijakan dapat dibuka secara bertahap pada awal 2026 seiring melemahnya aktivitas ekonomi di sejumlah negara zona euro.
Indikator manufaktur dan konsumsi rumah tangga di beberapa negara inti menunjukkan perlambatan, sehingga memunculkan perdebatan baru tentang arah kebijakan suku bunga dan dukungan moneter yang diperlukan untuk menjaga momentum pemulihan.
Perbedaan langkah ini membuat pergerakan mata uang utama menjadi lebih sensitif terhadap setiap rilis data dan komentar pejabat bank sentral.
Baca juga: Prospek pasar saham dan emas antara pemulihan dan risiko geopolitik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






































