Jakarta (ANTARA) - Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria menjelaskan strategi komprehensif yang dijalankan untuk memperkuat industri baja nasional, yakni melalui hilirisasi dan integrasi industri
Langkah itu menurutnya mencakup pembenahan BUMN baja Krakatau Steel, pengembangan proyek hilirisasi, hingga integrasi kebutuhan baja untuk sektor perkapalan dan perkeretaapian.
Dony dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu menegaskan, Danantara menempatkan sektor industri sebagai basis utama pertumbuhan ekonomi nasional sebagaimana tertuang dalam roadmap pembangunan yang dirancang pemerintah.
Oleh karena itu, kata dia berbagai proyek strategis tengah dijalankan untuk memastikan industri dalam negeri mampu tumbuh sehat, berdaya saing, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Salah satu fokus utama adalah pembenahan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang saat ini telah memasuki fase menuju kondisi finansial yang lebih sehat setelah dilakukan berbagai intervensi dan perbaikan fundamental perusahaan.
“Yang pertama adalah berkaitan dengan baja termasuk di dalamnya adalah kita melakukan perbaikan terhadap Krakatau Steel. Krakatau Steel hari ini sudah memasuki fase menuju sehat secara finansial,” ujar Dony.
Selain restrukturisasi dan penguatan kinerja Krakatau Steel, Danantara juga mendorong pengembangan sektor hulu (upstream) industri baja melalui proyek hilirisasi yang akan segera memasuki tahap groundbreaking bulan depan.
“Groundbreaking di bulan depan itu untuk penambahan kapasitas 3 juta ton daripada baja kita,” ucap dia.
Penambahan kapasitas ini dinilai krusial mengingat kebutuhan baja nasional hingga kini masih didominasi produk impor.
Menurutnya, dengan memperkuat kapasitas produksi domestik, pemerintah berharap pasokan baja untuk industri strategis dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Dony menekankan, keberhasilan pengembangan industri baja tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan sektor industri lain yang menjadi pengguna utama baja.
Dalam konteks ini, Danantara mendorong industrialisasi di lingkungan BUMN yang berada di bawah pengelolaannya.
Di sektor perkapalan, Danantara akan menjadikan PT PAL sebagai anchor industri galangan kapal nasional.
“Kita melakukan merger daripada perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri perkapalan, tetapi dampaknya adalah kita akan mewajibkan seluruh perusahaan-perusahaan yang membutuhkan manufaktur kapal yang berada dalam lingkup Danantara itu diwajibkan dilakukan di PT PAL,” ucap dia.
Selain sektor perkapalan, Danantara juga memperkuat industri perkeretaapian melalui pengembangan PT INKA (Persero). Saat ini, PT INKA telah memiliki fasilitas manufaktur di Madiun dan Banyuwangi, serta akan menambah kapasitas produksi di Banyuwangi.
Dony menyampaikan, seluruh perbaikan dan manufaktur kereta api nasional ke depan akan diwajibkan dilakukan di PT INKA.
Kebijakan ini sejalan dengan roadmap transportasi pemerintah yang menempatkan kereta api sebagai tulang punggung mass transportation.
“Seluruh perbaikan daripada industri kereta api kita ke depan itu akan diwajibkan dilakukan di PT INKA termasuk juga manufakturnya,” katanya.
Penguatan industri kereta api juga kata dia dibarengi dengan program elektrifikasi jalur, seperti Jakarta–Cikampek, Jakarta–Rangkasbitung, Jakarta–Sukabumi, serta pengembangan di lima kota lainnya.
Baca juga: Danantara: Demutualisasi kurangi dominasi kepemilikan, perkuat bursa
Baca juga: Danantara: Demutualisasi BEI perkuat kredibilitas pasar modal
Baca juga: IHSG berpotensi mendatar, pasar cermati arah kebijakan otoritas
Baca juga: Rosan sebut Perminas upaya optimalkan potensi tanah jarang RI
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





































