Fenomena yang disebut super flu — terkait dengan influenza A (H3N2) subclade K — tengah jadi perbincangan setelah sejumlah kasus terdeteksi di Indonesia dan lonjakan kasus rawat inap di Amerika Serikat.
Berbagai pihak, termasuk DPR, Kemenkes, dan ahli kesehatan, memberi penjelasan terkait risiko, perbedaan dengan flu biasa, serta imbauan kepada publik agar tak panik.
Berikut sejumlah pandangan terkait superflu, dari DPR, ahli kesehatan, hingga Kementerian Kesehatan.
Penyakit Super Flu Masuk RI, Komisi IX DPR Minta Publik Tidak Panik
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan sikapnya tentang kondisi super flu yang sudah terdeteksi di Indonesia:
“Informasi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa varian ini sudah terpantau dan hingga kini belum terbukti menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza sebelumnya. Ini penting disampaikan agar masyarakat tetap tenang, rasional, dan mengikuti anjuran kesehatan,” ujar Netty di Jakarta, Rabu (31/12).
Dalam penjelasan panjangnya, Netty juga menyatakan apresiasi pada Kemenkes soal pemantauan dan keterbukaan informasi kepada publik, dan mengingatkan tentang pentingnya langkah pencegahan dasar seperti menjaga kebersihan serta penggunaan masker di kondisi tertentu.
62 Kasus Super Flu yang Heboh di AS Sudah Masuk RI, Terbanyak di Jatim
Juru bicara Kemenkes RI, drg Widyawati, mengungkapkan data dari surveilans nasional terkait temuan kasus super flu hingga akhir Desember 2025:
“Berdasarkan pemeriksaan dari 88 sentinel ILI SARI di seluruh Indonesia yang diperiksa di laboratorium kesehatan masyarakat serta laboratorium rujukan berstandar biosafety level 3 (BSL-3), hingga akhir Desember tercatat total 62 kasus di delapan provinsi,” kata drg Widyawati dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/1).
Dari delapan provinsi, kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Dalam artikel itu juga disebut pernyataan ahli yang menjelaskan istilah super flu yang ramai dibicarakan sebagai penyakit flu akibat H3N2 subclade K.
Kasus Rawat Inap Super Flu di AS Naik Jadi 19.053 Orang, Kematian Meningkat
Eks Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, memberi penjelasan atas tren global super flu, termasuk di Amerika Serikat:
“Kalau mau ditelusuri ke belakang lagi, pernah ada peningkatan kasus flu dunia yang cukup besar di tahun 1968 yang juga akibat virus influenza A H3N2, walaupun waktu itu belum yang sub clade K,” kata Tjandra dalam keterangan tertulis, Jumat (2/1).
Ia juga menyampaikan data terbaru tentang angka rawat inap di AS:
"Informasi terakhir per 30 Desember 2025 dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa influenza ada dalam kategori tinggi atau sangat tinggi di 32 negara bagian negara itu. Angka 32 itu meningkat dari 17 negara bagian di minggu sebelumnya," kata Tjandra.
"Angka perawatan pasien influenza di rumah sakit di Amerika Serikat juga meningkat menjadi 19,053 dari 9.944 di minggu sebelumnya," sambungnya.

3 hours ago
1






































