Indonesia di Penghujung 2025: Demokrasi yang Terengah-engah, Ekonomi Merangkak

4 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Peta Baru Indonesia. Foto: Amanaturrosyidah/kumparan

Tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan potret diagnostik berdasarkan data, teori, dan pengamatan langsung di lapangan— khususnya dalam dinamika pemerintahan daerah yang sering menjadi cermin miniatur Indonesia.

Secara teori, demokrasi bukan hanya tentang pemilu, melainkan juga accountability, partisipasi, dan kebebasan berekspresi.

Namun, menurut The Economist Intelligence Unit (2024), Indeks Demokrasi Indonesia turun ke peringkat 65 dunia dengan skor 6,48. Penurunan ini bukan kebetulan.

Di tingkat akar rumput, partisipasi politik warga makin menipis. Data KPU (2024) mencatat partisipasi pemilu hanya 81,78%, terendah dalam dua dekade terakhir. Ini gejala democratic fatigue: rakyat lelah dengan politik transaksional, kampanye hitam, dan janji yang menguap pasca-pemilu.

Teori delegative democracy (O’Donnell, 1994) relevan di sini: pemimpin terpilih memerintah dengan mandat luas, tetapi mekanisme check and balance lemah. Akibatnya, kebijakan sering reaktif, tidak partisipatif, dan lebih mengutamakan kepentingan elite politik daripada publik.

Di daerah, situasi lebih memprihatinkan. Pilkada kerap dibayangi politik uang dan dinasti. Ruang dialog seperti musrenbang sering menjadi formalitas belaka. Hasilnya, kebijakan daerah kerap tak menyentuh kebutuhan riil masyarakat.

Ekonomi yang Tumbuh tapi Pincang

Data BPS September 2024 menunjukkan Gini Ratio tetap tinggi di 0,384. Artinya, kesenjangan antara si kaya dan si miskin nyaris tak beranjak. Yang lebih mengkhawatirkan: 20% kelompok terbawah hanya menikmati 6,5% dari total pengeluaran nasional, sementara 20% teratas menguasai hampir separuhnya.

Kita juga terjebak dalam middle-income trap: pertumbuhan ditopang konsumsi dan ekspor komoditas, bukan inovasi atau industri bernilai tambah tinggi. Investasi asing langsung (FDI) memang

masuk, tetapi sering ke sektor ekstraktif yang minim penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Di tingkat daerah, ketergantungan pada transfer pusat (DAU dan DAK) mencapai 70% dari APBD di banyak kabupaten. Otonomi daerah malah jadi kutukan ketika kapasitas fiskal dan SDM terbatas. UMKM—yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi lokal—kesulitan akses pembiayaan dan pasar.

Pemerintahan yang Terfragmentasi

Contoh nyata: program pengentasan stunting. Meski dana digelontorkan, prevalensi stunting di sejumlah daerah justru stagnan karena salah sasaran dan tumpang tindih program. Ini cermin policy incoherence yang mahal harganya: anggaran membengkak, hasil minim.

Birokrasi kita juga masih terjebak dalam silo mentality. Setiap kementerian dan dinas daerah bekerja sendiri-sendiri, tanpa sinergi. Pelayanan publik masih lambat dan berbelit, meski jargon "digitalisasi" terus digaungkan. E-budgeting, misalnya, baru diterapkan di 45% daerah. Sisanya masih manual—dan rentan korupsi.