Empat kata sederhana yang terdengar mudah, namun bagi sebagian anak—bahkan yang sudah beranjak dewasa—kalimat ini terasa seperti gunung yang harus didaki. Bukan karena mereka tidak mencintai orang tuanya, melainkan ada dinding tak kasat mata yang menghalangi perasaan itu untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Di tengah era media sosial yang penuh dengan unggahan foto keluarga bahagia dan caption penuh cinta, masih banyak anak yang berjuang dalam diam. Mereka merasakan kehangatan kasih sayang orang tua, namun kesulitan membalasnya dengan cara yang sama. Fenomena ini lebih umum dari yang kita kira, dan memahaminya adalah langkah pertama menuju rekonsiliasi emosional yang sehat.
Mengapa Sulit Mengungkapkan Sayang?
1. Pola Asuh yang Minim Afeksi Verbal
Tidak semua keluarga tumbuh dengan kebiasaan mengucapkan "aku sayang kamu" setiap hari. Dalam banyak keluarga Indonesia, khususnya yang lebih tradisional, kasih sayang lebih sering ditunjukkan melalui tindakan—menyiapkan makanan, bekerja keras mencari nafkah, atau memastikan kebutuhan material terpenuhi.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini mungkin tidak pernah belajar bagaimana mengekspresikan perasaan secara verbal. Mereka tahu mereka dicintai, tetapi tidak pernah diajari cara mengatakan "aku juga sayang kalian" dengan nyaman.
2. Trauma atau Luka Emosional Masa Lalu
Beberapa anak mungkin pernah mengalami penolakan emosional, diabaikan, atau bahkan menghadapi konflik yang intens dengan orang tua di masa kecil. Pengalaman ini bisa menciptakan dinding pelindung—sebuah mekanisme pertahanan psikologis yang membuat mereka enggan membuka diri, takut terluka lagi.
Meskipun hubungan sudah membaik, bekas luka emosional tidak mudah hilang. Anak mungkin masih menyimpan rasa sakit yang belum sepenuhnya sembuh, sehingga sulit untuk mengekspresikan kasih sayang dengan bebas.
3. Kepribadian Introvert atau Alexithymia
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi. Anak dengan kepribadian introvert cenderung menyimpan perasaan untuk diri sendiri. Mereka mungkin merasa canggung atau tidak nyaman dengan demonstrasi afeksi yang terbuka.
Lebih jauh lagi, ada kondisi yang disebut alexithymia—kesulitan mengenali dan mendeskripsikan emosi sendiri. Orang dengan alexithymia tahu mereka merasakan sesuatu, tetapi sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya.
4. Gap Generasi dan Perbedaan Bahasa Cinta
Gary Chapman dalam bukunya "The Five Love Languages" menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam memberi dan menerima cinta: kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, hadiah, tindakan pelayanan, atau sentuhan fisik.
Ketika orang tua dan anak memiliki "bahasa cinta" yang berbeda, kesalahpahaman bisa terjadi. Orang tua mungkin mengekspresikan cinta melalui tindakan (memasak, memberi uang), sementara anak merasa membutuhkan kata-kata afirmasi. Sebaliknya, anak mungkin menunjukkan sayang dengan menghabiskan waktu bersama, tetapi orang tua mengharapkan ungkapan verbal.
5. Budaya "Gengsi" dan Rasa Malu

2 hours ago
1






































