Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.985 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.955 per dolar AS.
Namun Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi menguat seiring dolar AS yang tertekan oleh aksi jual obligasi AS.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali tertekan oleh aksi jual obligasi AS oleh investor,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Aksi jual ini melonjakkan imbal hasil obligasi AS dari kisaran 4,13 persen ke 4,25 persen.
Baca juga: BRI terbitkan SBK Rp500 M sebagai alternatif pendanaan jangka pendek
Di sisi lain, penguatan diprediksi terbatas mengingat investor masih wait and see jelang Rapat Dewan Gubernur (RDB) Bank Indonesia (BI) yang diadakan pada Rabu (21/1).
Adapun perihal pengunduran diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur BI dinilai tak memberikan dampak yang signifikan terhadap rupiah.
“Perihal pengunduran diri Deputi BI memang bukan hal yang positif, namun apapun alasannya, dampaknya tidak akan besar dibandingkan hal-hal yang dikhawatirkan saat ini seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diperkirakan berkisar Rp16.700-Rp17 ribu per dolar AS.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






































