Dalam idealnya, perkuliahan adalah ruang interaksi: dosen hadir, mahasiswa belajar, proses berjalan, lalu penilaian dilakukan secara adil. Namun dalam praktiknya, fenomena dosen jarang mengajar masih sering dialami mahasiswa. Perkuliahan jarang berlangsung, komunikasi minim, dan kehadiran dosen di kelas nyaris tak terasa. Anehnya, di luar ruang akademik, sebagian dosen justru aktif membangun personal branding digital. Di akhir semester, nilai tetap keluar dan tidak selalu menggembirakan.
Pertanyaannya sederhana,bagaimana penilaian bisa objektif jika proses pembelajarannya nyaris tak terasa?
Ketika Kehadiran Menjadi Formalitas
Kesibukan dosen adalah realitas yang tak bisa dihindari. Namun kesibukan tidak seharusnya menghilangkan esensi peran dosen sebagai pendamping belajar. Dalam banyak kasus, ketidakhadiran di kelas tidak diimbangi dengan mekanisme pengganti yang jelas. Grup perkuliahan sunyi, pesan mahasiswa jarang mendapat respons, dan jadwal kuliah seakan berjalan sendiri tanpa arahan.
Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa sebenarnya tidak sedang “malas”, melainkan kehilangan akses terhadap proses belajar yang semestinya mereka dapatkan.
Masalah lain yang kerap muncul adalah komunikasi yang tidak berjalan dua arah. Saat jadwal kuliah tiba, dosen tidak hadir dan tidak memberi keterangan. Saat mahasiswa mencoba bertanya, pesan tidak terjawab. Situasi ini menciptakan ketidakpastian akademik yang melelahkan.
Padahal, komunikasi adalah fondasi pendidikan. Tanpa komunikasi yang jelas, perkuliahan berubah menjadi ruang kosong yang hanya diisi kewajiban administratif.
Ujian Mendadak dan Ketidaksiapan Sistem
Kebingungan mahasiswa sering mencapai puncaknya ketika ujian diumumkan secara tiba-tiba, bahkan tidak selalu sesuai dengan jadwal akademik yang telah ditetapkan. Tanpa kisi-kisi yang jelas dan tanpa pertemuan yang memadai sebelumnya, ujian menjadi beban tambahan, bukan sarana evaluasi pembelajaran.
Dalam situasi ini, yang diuji bukan hanya pemahaman materi, tetapi juga kemampuan mahasiswa bertahan dalam sistem yang serba tidak pasti.
Antara Personal Branding dan Tanggung Jawab Akademik
Di era digital, personal branding memang penting. Namun dalam konteks pendidikan tinggi, personal branding seharusnya tidak menggantikan peran utama dosen sebagai pendidik. Ketika kelas dibiarkan berjalan tanpa pendampingan, sementara konten personal terus diproduksi dengan konsisten, muncul kesan bahwa ruang kelas bukan lagi prioritas utama.
Ini bukan soal melarang dosen berkarya di ruang publik, melainkan soal keseimbangan dan tanggung jawab. Pendidikan tidak bisa berjalan hanya dengan citra, tetapi membutuhkan kehadiran yang nyata.
Nilai yang Datang Tanpa Penjelasan
Nilai akhir seharusnya menjadi refleksi dari proses belajar. Namun ketika prosesnya minim, nilai justru terasa seperti keputusan sepihak. Tidak ada umpan balik, tidak ada penjelasan, dan ruang klarifikasi pun terbatas.
Mahasiswa akhirnya menerima nilai bukan karena memahami kekurangannya, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain.
Budaya Diam yang Terpelihara
Mengapa kondisi ini terus terjadi? Salah satu penyebabnya adalah budaya diam. Mahasiswa sering memilih tidak bersuara karena khawatir dianggap bermasalah. Evaluasi dosen berjalan, tetapi tindak lanjutnya tidak selalu terasa.

3 hours ago
1






































