Ironisnya, rabies bukan penyakit yang misterius. Tingkat kematiannya hampir 100 persen jika gejala klinis muncul, namun sepenuhnya bisa dicegah jika ditangani sejak awal. Pengetahuan ini bukan rahasia. Masalahnya bukan pada ketidaktahuan, melainkan pada kebiasaan menunda kewaspadaan.
Penyakit yang Selalu Datang Saat Kita Lalai
Di banyak desa, pelosok, bahkan kawasan wisata, gigitan atau cakaran hewan masih sering dianggap kejadian biasa. Luka kecil dibersihkan seadanya, lalu dilupakan. Selama hewannya tampak sehat, rasa aman pun muncul. Inilah celah berbahaya tempat rabies masuk tanpa disadari.
Kita sering berpikir rabies adalah urusan “kasus besar” atau “kejadian langka”. Padahal, rabies justru berkembang dalam situasi sehari-hari: interaksi dekat manusia dengan hewan, pengelolaan hewan yang minim, serta respons yang terlambat terhadap luka.
Fokus yang Terlalu Sempit pada Anjing
Selama ini, rabies hampir selalu direduksi sebagai penyakit akibat gigitan anjing. Akibatnya, muncul persepsi keliru bahwa kontak dengan hewan lain relatif aman. Padahal, rabies dapat ditularkan oleh berbagai mamalia, seperti kucing, monyet, dan kelelawar.
Di sejumlah negara, kelelawar bahkan menjadi sumber utama penularan rabies pada manusia. Namun pemahaman ini belum cukup kuat di masyarakat. Gigitan monyet di tempat wisata, misalnya, masih sering dianggap insiden ringan, bukan keadaan darurat kesehatan. Rasa aman palsu inilah yang membuat penanganan kerap terlambat.
Budaya Menyepelekan Risiko
Masalah rabies juga mencerminkan budaya kesehatan kita yang cenderung reaktif. Luka kecil dianggap tidak berbahaya jika tidak langsung menimbulkan nyeri hebat atau demam. Kita terbiasa menunggu gejala, padahal pada rabies, menunggu justru berarti kehilangan kesempatan hidup.
Virus rabies dapat berdiam dalam tubuh selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan tanpa tanda jelas. Ketika gejala muncul, penanganan hampir tidak lagi berarti. Fakta ini seharusnya cukup untuk membuat setiap gigitan atau cakaran hewan diperlakukan dengan serius, namun kenyataannya belum demikian.
Dari Panik Sesaat ke Kewaspadaan Berkelanjutan
Setiap kali rabies mencuat, respons publik cenderung bersifat sementara. Ada kampanye singkat, vaksinasi terbatas, lalu perhatian mereda. Padahal, pencegahan rabies menuntut kewaspadaan jangka panjang, bukan reaksi sesaat.
Rabies seharusnya dipahami sebagai isu kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan lingkungan dan perilaku manusia. Selama interaksi manusia dan hewan tidak diiringi kesadaran risiko, rabies akan terus menemukan jalannya.
Waspada Sebelum Ada Korban
Pertanyaan pentingnya bukan lagi "apakah rabies berbahaya?", kita semua tahu jawabannya. Pertanyaannya adalah "mengapa kita selalu baru waspada setelah ada korban?".
Selama kewaspadaan hanya muncul setelah tragedi, rabies akan terus berulang. Pencegahan sejati justru dimulai dari sikap sederhana: menganggap setiap gigitan dan cakaran hewan sebagai kondisi serius, sebelum semuanya terlambat.

1 hour ago
1






































