Pagi masih dingin ketika sebagian orang belum bangun, tapi di sebuah lokasi acara, beberapa orang sudah saling menyapa dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Tidak banyak bicara. Mereka tahu hari ini akan panjang. Pekerja event, kru teknis, dan vendor datang membawa barang, tenaga, dan harapan—sering kali juga membawa cemas.
Seorang teknisi sound duduk sebentar di pinggir panggung, merapikan kabel sambil menyesap kopi sachet. Tangannya cekatan, tapi pikirannya melayang. Tagihan event bulan lalu belum juga dibayar. Pesan WhatsApp ke klien hanya dibaca.
“Yang penting hari ini beres dulu,” katanya pelan, lebih seperti menenangkan diri sendiri.
Di deretan stan, seorang ibu pedagang membuka lapaknya perlahan. Ia sudah hafal ritme ini: belanja bahan dulu, lalu berharap cuaca dan pengunjung bersahabat. Hasil event kemarin belum cukup untuk menutup semua biaya. Tapi ia tetap datang.
“Kalau nggak buka lapak, saya nggak punya cerita apa-apa hari ini,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Siang hari, masalah datang seperti biasa. Listrik turun. Musik terhenti sesaat. Dari balik panggung, nada suara meninggi. Klien terlihat gelisah, marah, takut acaranya gagal. Amarah itu jatuh ke pundak kru yang sejak subuh belum istirahat. Tak semua bisa dijelaskan. Tak semua bisa dibela. Kadang, diam adalah cara paling aman.
Sementara itu, hanya berjarak beberapa meter di depan panggung, pemandangan justru bertolak belakang. Sorot lampu memukau ribuan mata, menyembunyikan kabel-kabel ruwet di belakangnya. Para pengunjung tertawa lepas, influencer berpose dengan senyum sempurna memamerkan kemeriahan di media sosial, dan tepuk tangan membahana. Mereka menikmati "keajaiban" itu tanpa perlu tahu bahwa di balik setiap detik keriaan, ada keringat dingin yang menetes dan perut yang menahan lapar demi memastikan lampu tetap menyala dan suara tetap terdengar jernih.
Di belakang layar, ada kru yang ditegur keras di depan orang banyak. Ada vendor yang harus mengulang pekerjaan karena permintaan berubah mendadak. Ada panitia yang menahan air mata di balik headset. Mereka belajar satu hal: profesionalisme sering berarti menyimpan perasaan di saku paling dalam.
Namun di sela-sela itu, ada juga kehangatan kecil. Seorang kru membagi rokok terakhirnya. Seorang pedagang menyodorkan gorengan ke panitia yang belum sempat makan. Tawa kecil muncul, sebentar, tapi cukup untuk menguatkan.
Malam datang bersama rasa lega dan sisa lelah. Pengunjung pulang membawa foto dan cerita. Panggung mulai dibongkar. Kabel digulung perlahan.
“Invoice-nya jangan lupa ya,” kata seorang vendor, setengah bercanda, setengah berharap. Semua tahu, menunggu pembayaran kadang lebih melelahkan daripada bekerja seharian.
Ada yang pulang dengan uang cukup. Ada yang pulang dengan catatan utang. Ada juga yang pulang hanya dengan rasa syukur karena acara berjalan tanpa insiden besar.
Tapi besok, ketika ada pesan masuk tentang event baru, banyak dari mereka akan menjawab, “Siap.”
Bukan karena hidup mereka mudah, tapi karena mereka percaya pada kerja, pada pertemuan, pada harapan kecil yang mungkin tumbuh dari satu acara ke acara lain.
Di balik riuh event, ada manusia yang terus belajar bertahan. Bukan dengan sorak sorai, tapi dengan kesabaran, saling menguatkan, dan keyakinan bahwa kerja mereka—sekecil apa pun—tetap punya arti.

2 hours ago
1






































