Jakarta (ANTARA) - Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama menyatakan seiring semakin luasnya aspirasi keluarga Indonesia, mulai dari pendidikan anak hingga perencanaan warisan lintas generasi, maka perencanaan dan perlindungan finansial tidak lagi bisa bersifat lokal.
"Keluarga kini membutuhkan solusi yang siap menjawab kebutuhan global, lintas mata uang, dan berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya," katanya di Jakarta, Jumat.
Bagi semakin banyak keluarga Indonesia saat ini, tambahnya, masa depan tidak lagi dibatasi oleh geografi, mereka kini merencanakan langkah besar mulai dari mengirim anak menempuh pendidikan di luar negeri, membangun karier internasional, hingga memiliki dan mengelola aset global.
"Perencanaan yang semula terpaut lokal kini berubah menjadi lintas generasi dan lintas mata uang," ujar dia dalam keterangannya.
Namun di balik rencana besar tersebut, lanjutnya, terdapat tantangan yang semakin nyata. Ketika impian keluarga dihitung dalam dolar AS, perencanaan keuangan masih bergantung pada rupiah dalam kondisi pasar yang fluktuatif.
Menurut dia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mengalami pelemahan signifikan selama beberapa tahun terakhir, dari sekitar Rp13.389 per dolar AS pada 2015 merosot menjadi sekitar Rp16.985 pada Januari 2026 yang mencerminkan depresiasi sekitar 27 persen.
Dampaknya terasa nyata pada perencanaan keuangan jangka panjang keluarga. Salah satunya, biaya pendidikan yang setara dengan 200.000 dolar AS, yang pada 2015 bernilai sekitar Rp2,68 miliar, kini meningkat menjadi kira-kira Rp3,39 miliar, bertambah lebih dari Rp700 juta semata akibat pergerakan kurs.
Namun, ujar Vivin, tekanan nilai tukar ini tidak hanya memengaruhi kebutuhan dasar seperti pendidikan dan properti. Dalam skala yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, dampak serupa juga dirasakan pada barang konsumsi yang dihargai dalam dolar AS.
Pelemahan nilai tukar, tambahnya, tidak hanya berdampak pada rencana besar di masa depan, tetapi juga secara perlahan menggerus daya beli keluarga dalam pengeluaran sehari-hari.
Tanpa perencanaan yang selaras dengan mata uang kebutuhan, selisih biaya dapat terus melebar dari waktu ke waktu.
Tekanan ini tidak berhenti pada nilai tukar saja. Inflasi Indonesia selama 2025 tercatat sebesar sekitar 2,92 persen secara year-on-year sebagaimana dicatat oleh Badan Pusat Statistik.
Dengan kombinasi tekanan kurs dan inflasi domestik, tantangan keluarga Indonesia hari ini bukan hanya sekadar menjaga daya beli hari ini, tetapi juga memastikan kesiapan finansial untuk kebutuhan masa depan yang berskala global.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perencanaan finansial tidak lagi cukup hanya besar secara nominal, namun harus relevan secara konteks, baik dari sisi mata uang maupun tujuan hidup.
Saat biaya pendidikan, kesehatan, dan investasi kerap ditetapkan dalam dolar AS, perlindungan jiwa pun perlu selaras: tersedia dalam mata uang yang tepat saat momen penting tiba.
Untuk memperkuat ketahanan finansial di tengah dinamika global, setiap keluarga modern membutuhkan perlindungan yang mendukung langkah selanjutnya di masa kini dan masa depan.
"Karena itu, perencanaan dan perlindungan finansial perlu dirancang secara lebih relevan, dengan mempertimbangkan struktur aset, tujuan hidup, serta kesiapan lintas mata uang, baik rupiah maupun dolar AS," katanya.
Baca juga: OJK: Regulasi sudah beri ruang maksimal investasi saham dapen-asuransi
Baca juga: AAUI harap investasi asuransi 20 persen di pasar saham hanya opsional
Baca juga: LPS: Progres program penjaminan polis sudah capai hingga 85 persen
Pewarta: Subagyo
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








































