Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan hari ini, Senin (12/1). Total investasi yang digelontorkan untuk mega proyek ini mencapai USD 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun.
Dengan diresmikannya proyek ini, Kilang Balikpapan milik PT Pertamina (Persero) akan menjadi kilang terbesar di Indonesia, dengan kapasitas pengolahan dari 260 ribu barel per hari naik menjadi 360 ribu barel per hari.
"Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini, dan saya ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur, pihak, dan jajaran personalia sehingga kita berhasil mencapai hari ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa,” kata Prabowo saat meresmikan RDMP Balikpapan di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan RDMP Balikpapan merupakan proyek yang terintegrasi menjadi satu ekosistem dengan jaringan infrastruktur Terminal Minyak Lawe-lawe melalui Pipa Gas Senipah-Balikpapan sepanjang 78 km.
"Total investasinya sekitar 7,4 miliar US dollar, dan ini adalah RDMP terbesar dalam sepanjang sejarah kita yang dibangun di Indonesia," kata Bahlil kepada awak media.
Bahlil menyebutkan, proyek ini merupakan RDMP pertama yang diresmikan di Indonesia sejak 32 tahun lalu. Terakhir, Pertamina menyelesaikan proyek RDMP di Kilang Balongan pada tahun 1994.
"RDMP mempunyai makna tersendiri dalam konteks kedaulatan energi, karena sejak 32 tahun lalu terakhir kita meresmikan RDMP, tepatnya pada tahun 1994 di Jawa Barat, Balongan," jelas Bahlil.
Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, Bahlil memastikan tidak akan mengeluarkan izin impor solar (gasoil) CN 48 mulai awal tahun 2026, kemudian solar CN 51 pada semester II 2026.
"Begitu diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Ini dalam rangka mendorong kedaulatan energi," tegas Bahlil.
RDMP Balikpapan merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun sejak 2019, mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.
Dengan peningkatan kapasitas, Crude Distillation Unit (CDU) di Kilang Balikpapan bisa mengolah minyak mentah 360 ribu barel per hari, sekaligus menjadi kilang terbesar di Indonesia saat ini.
Kemudian, Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci dalam proyek RDMP Balikpapan, meningkatkan kualitas produksi bahan bakar dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm
Melalui RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun, serta memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.

3 hours ago
3





































