Canberra (ANTARA) - Berbagai perubahan yang sedang terjadi dalam siklus air global memperparah banjir, kekeringan, dan panas ekstrem pada 2025, menyebabkan ribuan kematian dan kerugian ratusan miliar dolar, menurut satu laporan baru pada Rabu (14/1).
Laporan Global Water Monitor 2025 yang dipimpin oleh Universitas Nasional Australia (ANU) menunjukkan pemanasan global yang terus berlanjut mengubah cara air bergerak, disimpan, dan bersirkulasi di antara atmosfer, daratan, dan lautan, dengan konsekuensi signifikan bagi masyarakat dan ekosistem, papar sebuah rilis pers ANU.
Laporan itu menemukan bahwa hampir 5.000 orang tewas dan sekitar 8 juta orang mengungsi akibat bencana terkait air pada 2025, dengan kerugian ekonomi melampaui 360 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.875).
Kerugian tersebut berasal dari banjir, siklon tropis, kekeringan, dan kebakaran hutan, yang saling berkaitan dan menimbulkan dampak berantai melalui sistem air, pangan, dan energi, kata laporan tersebut.
"Perubahan pada siklus air memengaruhi waktu dan lokasi terjadinya bencana," kata Profesor Albert van Dijk dari Fakultas Lingkungan dan Masyarakat Fenner di Universitas Nasional Australia.
"Pada 2025, banjir, kekeringan, dan bahaya terkait panas berulang kali melanda kawasan yang sama secara beruntun, memperkuat dampak gabungannya," ujar van Dijk.
Dia menambahkan bahwa perubahan cepat antara ekstrem basah dan kering, atau disebut 'climate whiplash', membebani sistem air, ekosistem, dan infrastruktur, memperburuk dampak keseluruhan dari peristiwa terkait iklim.
"Laporan tersebut mendokumentasikan bagaimana perubahan dalam kelembapan atmosfer, kondisi tanah dan air tanah, aliran sungai, dan luas permukaan air berkaitan erat dengan banyak bencana iklim paling merusak pada tahun lalu," ujarnya.
Laporan itu mengaitkan bencana-bencana pada 2025, mulai dari banjir danau glasial di Himalaya hingga siklon ekuator, dengan kondisi panas yang memecahkan rekor. Eropa mencatatkan kasus-kasus kematian akibat panas dan kebakaran hutan, sementara Asia Selatan dan Tenggara menghadapi banjir monsun yang luas.
Para peneliti memperingatkan meningkatnya risiko kekeringan pada 2026 di berbagai kawasan termasuk Mediterania, Tanduk Afrika, Brasil, dan Asia Tengah, dengan potensi banjir yang lebih tinggi di Sahel, Afrika Selatan, Australia Utara, dan sebagian besar Asia.
Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

4 hours ago
1




































