REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan dunia, bahkan mulai dipelajari oleh pakar internasional termasuk dari Gedung Putih, Amerika Serikat. Program ini dinilai bukan sekadar bantuan pangan, melainkan investasi sosial dan ekonomi strategis yang mampu mengubah arah perputaran uang agar lebih banyak beredar di desa ketimbang tersedot ke kota atau ke luar negeri.
Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026), Kepala Negara menegaskan bahwa MBG adalah pilar penting menuju swasembada pangan yang memperkuat ketahanan nasional dari akar rumput. Prabowo menjelaskan Rp1 yang dikeluarkan untuk MBG akan kembali lima kali lipat. Pernyataan Presiden Prabowo mengenai nilai imbal balik (return) lima kali lipat dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) merujuk pada konsep investasi manusia yang berdampak jangka panjang terhadap ekonomi nasional.
Secara teori, setiap rupiah yang dikeluarkan pemerintah tidak hilang sebagai konsumsi semata, melainkan bertransformasi menjadi peningkatan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak bangsa. Hal ini sejalan dengan kajian dari Rockefeller Institute of Government yang menempatkan program pemenuhan gizi sebagai investasi terbaik karena mampu menekan beban biaya kesehatan negara di masa depan serta menciptakan tenaga kerja yang lebih produktif dan berdaya saing tinggi.
Dalam jangka pendek, efek pengganda (multiplier effect) ini terlihat dari perputaran ekonomi lokal di sekitar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Uang negara dialirkan langsung ke desa-desa untuk membeli hasil panen petani, ternak dari peternak, dan melibatkan UMKM lokal sebagai pemasok.
Dengan menciptakan jutaan lapangan kerja baru dan menghidupkan rantai pasok pangan di tingkat akar rumput, setiap satu rupiah yang diinvestasikan memicu aktivitas ekonomi yang luas, sehingga mencegah penumpukan modal hanya di kota besar atau mengalir ke luar negeri.
Hingga saat ini, MBG telah menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat dalam satu tahun, melampaui keraguan berbagai pihak yang memprediksi kegagalan teknis berskala besar. Presiden mengungkapkan bahwa statistik keberhasilan program mencapai 99,99 persen, sebuah capaian yang menurutnya membuktikan efektivitas sistem distribusi gizi nasional. Secara ekonomi, program ini telah menggerakkan 22.275 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyerap bahan pangan dari petani dan peternak lokal. Jika target 82 juta penerima tercapai pada Desember 2026, MBG diproyeksikan mampu menciptakan hingga 5 juta lapangan kerja baru di tingkat desa.
Rockefeller Institute of Government merupakan lembaga penelitian kebijakan publik yang berbasis di New York, Amerika Serikat, dan berafiliasi dengan State University of New York (SUNY). Berfokus pada analisis berbasis data untuk membantu pemerintah dalam mengambil keputusan yang efektif, institut ini dikenal luas karena keahliannya dalam mengkaji kebijakan fiskal, kesehatan, dan pendidikan.
Dalam konteks global, penilaian lembaga ini terhadap MBG sebagai "investasi terbaik" memperkuat kredibilitas program tersebut di mata komunitas internasional karena dianggap mampu memberikan imbal hasil ekonomi yang berlipat ganda bagi pembangunan sebuah negara.
Optimalkan Pangan Lokal
Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Papua Barat terus mengoptimalkan pemanfaatan komoditas pangan lokal dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk memperkuat ekonomi kerakyatan serta memberdayakan petani dan pedagang asli Papua.
sumber : Antara

1 day ago
2






































