Keluarga pekerja migran menunggu pelepasan pekerja migran di Pendapa Pemerintah Kota Tegal, Jawa Tengah, Selasa (4/10/2022).
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Dewi Ariani, mengungkapkan, sepanjang 2025, terdapat 27 ribuan warga Jateng yang menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). Dia mengatakan, jumlah tersebut merupakan yang tertinggi selama setidaknya lima tahun terakhir. Keterbatasan peluang pekerjaan di dalam negeri menjadi salah satu faktor mereka memilih menjadi PMI.
"Dari angkatan penempatan (PMI asal) Jawa Tengah, sampai Desember kemarin itu kurang lebih 27 ribuan sekian," ungkap Dewi ketika diwawancara pada Jumat (2/12/2025).
Dia menambahkan, saat ini pihaknya masih memproses data terkait penempatan PMI asal Jateng sepanjang 2025. "Nanti bisa saya jawab angka pastinya berapa (jumlah PMI asal Jateng). Tapi kisarannya kurang lebih 27 ribu sekian," ucapnya.
Dewi menerangkan, sebanyak 27 ribu PMI asal Jateng tersebut bekerja di negara-negara yang memang sudah menjadi tujuan 'langganan', seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan. Mayoritas dari mereka bekerja di sektor informal, seperti menjadi asisten rumah tangga (ART).
Menurut Dewi, dari 27 ribuan PMI asal Jateng, sekitar enam ribuan di antaranya bekerja di sektor formal. "Yang formal ini biasanya bekerja di pabrik atau manufaktur, menjadi perawat di rumah sakit, atau menjadi caretaker di panti yang merawat orang tua, dan di sektor hospitality seperti hotel atau restoran," ujarnya.
Dia mengungkapkan, jumlah penempatan PMI asal Jateng pada 2025 merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir. "Tahun lalu itu 24 ribu sekian, tahun 2023 jumlahnya 25 ribuan sekian. Jadi kadang naik, kadang turun. Tapi 2025 ini tertinggi kalau dibandingkan lima tahun terakhir," kata Dewi.

11 hours ago
4






































