"Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kereta api KA Parahyangan akan tiba di pemberhentian akhir, stasiun Bandung. Mohon periksa kembali barang-barang bawaan Anda. Pastikan tidak ada yang tertinggal di atas kereta. Atas nama Kereta Api Indonesia, kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Anda menggunakan layanan kami. Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya."
"Dear passengers, we will soon arrive at the final destination, Bandung Station. Please check your belongings. Thank you for traveling with us, and we look forward to seeing you again."
Pemberitahuan yang diulang dalam dua bahasa secara bergantian, terus menerus bergema untuk mengingatkan para penumpang agar mempersiapkan barang-barangnya.
Bunyi kereta mengalun indah di rongga otakku, pada suasana saat sedang menikmati perjalanan di samping jendela. Ragaku berada di dalam kereta namun pikiranku mengembara di setiap sudut kota Bandung, tentu bersama Kirana.
Sesaat setelah KA Parahyangan berhenti di stasiun Bandung, malam belum begitu menua. Aku yang sedang duduk di gerbong paling belakang samping jendela, sudah sedari tadi mempersiapkan tas ransel, ingin segera mengejar hati yang tertinggal.
"Akhirnya tiba pada rindu yang belum tuntas, pada wajah Kirana yang masih tersisa di setiap sudut kota ini" Gumamnya.
Pada langkah pertama turun dari kereta, aku menarik nafas dengan sangat dalam, menahan nafas sesaat, kemudian menghembuskannya perlahan.
Layaknya seorang public speaker yang sesaat lagi akan tampil di depan forum dihadiri ribuan audience. Perasaan yang sama tentunya, ada getaran halus dari dalam diriku.
Aku berusaha menyadari bahwa aku benar-benar tiba kembali di tanah Pasundan, rindu yang sudah membuncah pada wajah sendu gadis masa lalu.
Ada hal yang selalu kita inginkan tetapi semakin menjauh, sementara ada yang kita lepaskan dan ikhlas kemudian mendekat dalam pelukan. Cara kerja semesta selalu menghadirkan rangkaian misteri yang menyenangkan.
"Bade kamana, kang. naik ojek?"
Suara halus dari seorang pria paruh baya yang mangkal di trotoar depan pintu keluar stasiun menawarkan jasa ojek, membuyarkan pikiranku tentang Kirana.
"Nggak, Mang. Dekat kok."
Aku menolak secara halus. Tentu karena aku ingin berjalan kaki sambil membayangkan apa yang akan kau obrolkan esok hari. Sempga kabar baik. Batinku.
Aku belum mengabarimu tentang kedatanganku di kota ini. Aku hanya ingin sebelum bertemu, biarlah aku dan Bandung bercengkerama sesaat.
Paskal Food Market, 18:30
Aku segera menjumpai tempat favorit kita di Paskal, mungkin hanya lima menit jalan kaki dari stasiun. Aku berjalan tanpa tergesa-gesa sambil menikmati angin malam kota ini.
Ada perasaan asing yang menyeruak dari dalam hatiku tentang kota ini, saat terakhir aku menganggapnya kota yang selalu menghadirkan luka tetapi membuatku jatuh hati berkali-kali.
Di foodcourt, aku memilih tempat duduk outdoor dan memesan segelas jahe hangat dan nasi goreng ikan asin. Kau tentu sudah paham makanan kesukaanku, segala macam jenis ikan. Kau juga tau bahwa aku tidak akan pernah menyentuh seiris pun daging ayam.

1 day ago
2






































