Daffa Nabil Mubarak
Sastra | 2026-01-23 15:52:14
Cerpen ini mengisahkan sebuah misi rahasia konyol berjudul "Operasi Kuning Ranum" yang diinisiasi oleh seorang ayah bernama Pak Bambang bersama anak laki-lakinya, Rian. Berawal dari ambisi untuk mencicipi mangga Arumanis milik tetangga mereka, Pak Broto, Pak Bambang justru menerapkan skenario stealth mission yang berlebihan ketimbang meminta izin secara normal. Cerita ini menyoroti bagaimana sebuah adrenaline rush dari aksi pencurian kecil berubah menjadi sebuah social disaster ketika strategi camouflage sang ayah hancur berantakan akibat kejujuran polos sang anak saat mereka terpojok dalam situasi high tension.
Melalui narasi yang penuh dengan istilah action dan gaming, pembaca diajak melihat bagaimana sebuah failed mission justru membuka tabir kesalahpahaman tentang sosok gatekeeper yang dianggap pelit. Cerpen ini membungkus pesan moral tentang integritas, komunikasi straightforward, dan pentingnya membuang prejudice terhadap sesama dengan balutan komedi situasi yang hangat dan relatable dalam kehidupan bertetangga.
Matahari tepat berada di ubun-ubun, memancarkan panas yang sanggup membuat aspal jalanan terlihat berlemak karena fatamorgana. Di sudut kompleks perumahan yang sepi, nampak dua pasang mata mengintip dari balik pagar tembok yang ditumbuhi tanaman merambat. Target mereka hanya satu: pohon mangga Arumanis milik Pak Broto yang cabangnya meliuk manja hingga ke luar pagar, sarat dengan buah-buah berukuran jumbo yang mulai mengeluarkan aroma manis fruity yang menggoda.
"Ingat, Rian. Ini bukan sekadar memanjat, ini adalah stealth mission," bisik seorang pria dewasa yang berjongkok di balik semak, mencoba menyeka keringat yang bercucuran di pelipisnya.
Rian, bocah sepuluh tahun itu, mengangguk mantap sambil membetulkan letak kaos oblongnya yang kumal. "Siap, Kapten. Tapi kenapa kita tidak minta izin saja seperti orang normal lainnya?"
Sang Ayah mendengus pelan, matanya tetap awas memantau jendela rumah Pak Broto yang tertutup rapat. "Minta izin itu membosankan, Nak. Lagipula, Pak Broto itu tipe gatekeeper yang pelitnya minta ampun. Dia lebih suka melihat mangga itu busuk dimakan kelelawar daripada dibagi ke tetangga. Kita sedang melakukan tindakan penyelamatan pangan, mengerti?"
"Oke, oke. Jadi aku yang naik?"
"Tentu saja. Tubuhmu kecil, lincah, dan punya power-to-weight ratio yang bagus untuk dahan kecil itu. Ayah akan berjaga di bawah sebagai spotter. Kalau ada tanda-tanda pergerakan dari dalam rumah, Ayah akan beri kode siulan khusus," instruksi ayahnya dengan nada serius, seolah-olah mereka sedang merencanakan heist kelas kakap.
Rian mulai mendekati batang pohon dengan gerakan agile. Dengan cekatan, ia menapakkan kakinya pada celah pagar beton dan meraih dahan terendah. Dalam hitungan detik, ia sudah menghilang di balik rimbunnya dedaunan hijau yang lebat. Dari bawah, ayahnya memberikan jempol tanda setuju sebelum akhirnya ikut memanjat sedikit ke dahan yang lebih rendah namun cukup tersembunyi, agar bisa lebih dekat memantau situasi di dalam halaman rumah tanpa terlihat dari jalanan.
"Bagaimana di atas? Sudah menemukan yang paling ripe?" tanya sang Ayah dengan suara tertahan.
"Banyak, Yah! Ada yang besar sekali di dahan sebelah kanan!" jawab Rian antusias, jemarinya mulai meraba permukaan kulit mangga yang terasa halus dan dingin.
Keduanya terlalu asyik dalam euforia pencurian kecil itu, sampai-sampai mereka kehilangan fokus pada pintu belakang rumah Pak Broto yang tiba-tiba berderit terbuka dengan suara tajam.
Suasana yang tadinya penuh adrenaline rush seketika berubah menjadi horor murni saat sosok Pak Broto muncul dengan sarung yang disampirkan di bahu dan sebuah galah panjang di tangan kanannya. Langkah kakinya yang berat di atas rumput kering terdengar seperti detak jam kematian bagi Rian dan Ayahnya.
"Siapa itu?! Kurang ajar!" teriak Pak Broto dengan suara bariton yang menggelegar, sanggup meruntuhkan nyali siapapun dalam radius sepuluh meter.
Rian membeku di dahan setinggi tiga meter, tangannya masih mencengkeram erat sebiji mangga Arumanis yang paling ranum. Di bawahnya, sang Ayah—yang terjebak di dahan tengah yang agak terbuka—berusaha melakukan camouflage dengan merapatkan tubuhnya ke batang pohon, berharap kaus hijaunya cukup efektif untuk menipu mata Pak Broto.
"Hoi! Anak bandel! Turun kamu! Ambil mangga orang seenaknya!" bentak Pak Broto tepat di bawah pohon. Ia mulai menusuk-nusukkan galahnya ke sela-sela dedaunan yang rimbun. "Nanti saya laporkan bapak kamu, biar tahu rasa! Punya anak kok tidak diajari sopan santun. Mana bapakmu? Biar saya tuntut sekalian karena membiarkan anaknya jadi intruder di rumah orang!"
Ayah Rian memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang bak dentum subwoofer. Pikirannya berputar mencari escape plan yang masuk akal, namun posisinya benar-benar terkunci. Jika ia melompat, ia akan mendarat tepat di depan hidung Pak Broto yang sedang murka. Jika ia diam, Pak Broto hanya tinggal menunggu waktu sampai matanya yang mulai rabun itu menangkap bayangan pria dewasa yang bersembunyi di balik daun kecil.
"Turun tidak?! Atau saya panggil polisi sekarang juga?" ancam Pak Broto lagi, galahnya nyaris mengenai kaki Rian.
Rian, yang dilanda kepanikan luar biasa, menunduk ke bawah. Matanya bertemu dengan mata Ayahnya yang memberikan isyarat silent dengan meletakkan telunjuk di depan bibir. Namun, bagi anak sepuluh tahun yang sedang berada di bawah tekanan high tension seperti itu, kode tersebut justru disalahartikan sebagai aba-aba untuk menyerah.
Dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi, Rian melihat ke arah dedaunan di bawahnya, tepat ke arah persembunyian Ayahnya, lalu berseru dengan polosnya, "Ayah, kita ketahuan! Turun sekarang atau nanti Pak Broto benar-benar panggil polisi!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi sang Ayah. Strategi stealth mission yang ia bangga-banggakan hancur lebur dalam satu kalimat deklarasi anaknya. Pak Broto tersentak, ia menggeser posisi berdirinya dan mendongak lebih tinggi, hingga akhirnya ia melihat sepasang kaki beralas sandal jepit yang sangat ia kenal sedang bergelantungan di dahan tengah.
"Lho? Pak Bambang?" Pak Broto ternganga, galahnya hampir terlepas. "Jadi... partner in crime anak kecil ini adalah bapaknya sendiri? Malu-maluin saja! Sudah tua bangkotan masih main hit and run di pohon orang!"
Sang Ayah hanya bisa menyengir kuda sambil perlahan turun dengan gerakan yang jauh dari kata agile. "E-eh, anu, Pak Broto... Ini sebenarnya bagian dari edukasi lapangan tentang botani dan... sedikit latihan fisik untuk Rian," dalihnya dengan suara yang terdengar sangat tidak meyakinkan.
Suasana di bawah pohon mangga itu mendadak menjadi sebuah impromptu stage bagi drama komedi yang memilukan. Pak Bambang mendarat di atas rumput dengan suara "buk" yang tidak estetik sama sekali, disusul oleh Rian yang turun dengan wajah yang masih dipenuhi pure innocence sekaligus ketakutan. Pak Broto berdiri berkacak pinggang, menatap tetangganya itu dengan pandangan yang merupakan campuran antara tidak percaya dan rasa ingin tertawa yang tertahan.
"Edukasi botani, mata kamu soak!" semprot Pak Broto, galahnya kini hanya disandarkan di bahu seperti seorang jenderal yang baru saja memenangkan skirmish kecil. "Sejak kapan kurikulum sekolah mengajarkan teknik trespassing dan pencurian di jam tidur siang?"
Pak Bambang mencoba memperbaiki posisi kerah kaosnya yang miring, berusaha mengumpulkan sisa-sisa dignity yang sudah tercecer di bawah pohon mangga. "Begini, Pak Broto... saya hanya ingin mengajarkan Rian tentang bagaimana cara mengidentifikasi buah yang sudah fully ripened langsung dari sumbernya. Dan yah, sedikit elemen kejutan agar ia belajar tentang risk management."
"Manajemen risiko? Risiko digebuk galah maksudmu?" Pak Broto mendengus, lalu beralih menatap Rian yang masih memeluk satu mangga besar dengan protektif. "Dan kamu, Rian. Kamu bilang tadi ini 'misi rahasia'? Ayahmu ini memang bad influence ya?"
Rian menoleh ke ayahnya, lalu kembali menatap Pak Broto dengan tatapan jujur yang mematikan. "Ayah bilang Pak Broto itu gatekeeper yang pelit, jadi kami harus pakai mode stealth supaya tidak perlu minta izin yang membosankan."
Kalimat itu bagaikan finishing blow bagi Pak Bambang. Ia merasa ingin segera melakukan teleportation ke planet lain saat itu juga. Wajah Pak Broto memerah, bukan karena marah, melainkan karena ia mulai tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya berguncang hebat.
"Jadi saya ini gatekeeper pelit, ya?" Pak Broto menyeka air mata di sudut matanya. "Aduh, Bambang, Bambang. Kalau kamu mau mangga ini, tinggal bilang! Saya justru pusing karena buah-buah ini bikin messy halaman saya kalau jatuh dan busuk. Saya tidak pelit, saya cuma malas memanjat karena faktor usia!"
Pak Bambang tertegun, sebuah plot twist yang sama sekali tidak ada dalam blueprint misinya. "Hah? Jadi... Bapak tidak keberatan kami ambil?"
"Ambil sana! Bawa karung sekalian! Tapi dengan satu syarat," Pak Br...

3 hours ago
3





























