Memori di Balik Layar Kaca: Senandung 'Wow Indonesia' yang Hilang

3 hours ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Image Daffa Nabil Mubarak

Sastra | 2026-01-23 15:57:16

Cerpen ini mengisahkan perjalanan emosional Daffa, seorang mahasiswa jurusan International Relations di tahun 2025, yang terjebak dalam ruang nostalgia antara realitas dunia modern yang sinis dan memori masa kecilnya yang penuh harapan. Di tengah penatnya tuntutan akademis, Daffa selalu dihantui oleh kerinduan akan hari Sabtu sore—sebuah waktu yang dulu ia anggap sakral saat ia masih duduk di kelas 5 SD. Ingatannya tertuju pada program Wow Indonesia di Trans7, sebuah tayangan yang mengulas kehebatan dan potensi Nusantara di mata dunia, yang menjadi sumber sense of pride dan vibes kedamaian baginya sebelum akhirnya program tersebut tamat pada April 2016.

Melalui pencarian arsip video yang pixelated dan perdebatan sengit mengenai bargaining power Indonesia di kancah global, Daffa mengalami pergulatan batin antara skeptisisme masa kini dan idealisme masa lalu. Cerita ini memotret transformasi Daffa dari seorang penonton pasif yang meratapi hilangnya sebuah program televisi, menjadi seorang pemuda yang menyadari bahwa dirinya adalah "suara" baru bagi negaranya. Dengan latar peralihan dari televisi tabung menuju layar laptop tahun 2025, narasi ini mengeksplorasi tema identitas nasional, cultural lag, serta bagaimana sebuah inspirasi masa kecil dapat menjadi bahan bakar untuk melakukan rebranding terhadap martabat bangsa di panggung dunia.

Tahun 2025 ternyata tidak sehebat yang dibayangkan Daffa saat ia masih bocah. Di meja belajarnya yang berantakan dengan tumpukan diktat kuliah International Relations, Daffa menyandarkan punggungnya yang pegal. Jarum jam di dinding kosannya menunjukkan pukul lima sore. Entah mengapa, setiap kali Sabtu sore menyapa dengan semburat jingga yang masuk melalui celah ventilasi, ada sebuah denyut nostalgia yang mendesak dadanya. Sebuah perasaan damai yang ganjil, sebuah vibe yang hanya bisa ia rasakan satu dekade silam.

“Daf, masih betah di depan laptop? Weekend begini mending ikut kita ke kantin pusat, yuk!” teriak Rendy, teman sekosnya, sambil melongok di ambang pintu.

Daffa hanya tersenyum tipis, matanya masih menatap kosong ke arah jendela. “Duluan saja, Ren. Aku cuma lagi ingat sesuatu. Sabtu sore jam segini... dulu adalah waktu paling sakral buatku.”

“Sakral gimana? Karena nggak ada tugas kuliah?” gurau Rendy.

“Lebih dari itu. Ini tentang rasa bangga yang sederhana,” gumam Daffa pelan.

Ingatannya melesat jauh, menembus lorong waktu menuju akhir 2015. Saat itu, Daffa masih duduk di kelas 5 SD. Bagi Daffa kecil, hari Sabtu bukanlah sekadar hari libur sekolah, melainkan hari di mana dunianya yang sempit di sudut kota kecil seketika meluas menjadi jendela dunia. Tepat pukul 17.00 WIB, ia akan sudah mandi, wangi minyak telon, dan duduk manis di depan televisi tabung di ruang tengah.

“Ibu! Cepat nyalakan Trans7! Programnya sudah mau mulai!” teriak Daffa kecil kala itu, suaranya melengking penuh antusiasme.

Ibunya yang sedang melipat baju hanya bisa geleng-geleng kepala. “Sabar, Daffa. Remote-nya ada di atas meja. Kamu ini, setiap Sabtu sore selalu saja tidak mau lepas dari Wow Indonesia.”

“Ibu harus lihat, hari ini mereka bahas tentang penemu asal Indonesia yang diakui dunia! Katanya, orang kita itu hebat-hebat, Bu!” sahut Daffa dengan mata berbinar-binar.

Itulah masa keemasan Daffa. Wow Indonesia bukan sekadar tontonan baginya; itu adalah asupan rasa percaya diri. Program itu merangkum segala kehebatan nusantara, mulai dari kekayaan alam yang breathtaking, inovasi teknologi anak bangsa, hingga budaya yang membuat warga asing berdecak kagum. Musik latarnya yang enerjik seolah menjadi soundtrack kebahagiaannya. Saat itu, Sabtu sore adalah titik paling damai, di mana tidak ada beban ujian matematika, hanya ada rasa bangga yang membuncah setiap kali narator menutup segmen dengan kalimat-kalimat inspiratif.

Namun, kedamaian itu menemui titik akhirnya di pertengahan 2016. Daffa masih ingat rasa sesak di dadanya ketika bulan April tahun itu menjadi penayangan terakhir program favoritnya. Program itu tamat, meninggalkan ruang kosong di setiap Sabtu sorenya. Sejak saat itu, pukul lima sore di hari Sabtu tak pernah lagi terasa sama.

Kini, di tahun 2025, Daffa mencoba mencari sisa-sisa rekaman program itu di platform video sharing, namun rasanya tetap berbeda. The golden era itu telah berlalu, namun semangat yang ditanamkan oleh Wow Indonesia di benak Daffa kecil itulah yang membawanya masuk ke jurusan Hubungan Internasional sekarang. Ia ingin membawa kehebatan yang dulu hanya ia tonton di layar kaca, menjadi kenyataan yang ia perjuangkan di panggung dunia.

Daffa menghela napas panjang, jemarinya menari di atas trackpad laptop, mencoba mencari potongan klip lama di YouTube dengan kata kunci "Wow Indonesia Trans7 2016". Hasilnya nihil. Hanya ada beberapa video pendek berkualitas rendah dengan resolusi pixelated yang bahkan tidak sanggup menangkap kemegahan visual yang dulu pernah menghipnotisnya.

"Sial, kenapa sulit sekali mencari arsipnya?" umpat Daffa pelan. Rasa frustrasi itu bukan sekadar karena gagal menemukan video, melainkan karena ia merasa sedang kehilangan jangkar identitasnya.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke grup WhatsApp angkatannya. Diskusi panas tentang isu geopolitik dan rendahnya indeks daya saing Indonesia di kancah global sedang menjadi perdebatan sengit.

"Daf, lo liat berita hari ini? Indonesia lagi-lagi cuma jadi pasar buat produk asing. Kita ini emang nggak punya bargaining power ya di mata dunia?" sebuah pesan dari rekannya, Sarah, muncul di layar.

Daffa terdiam. Kalimat itu terasa seperti tamparan. Di masa ia kelas 5 SD, Wow Indonesia memberinya narasi yang berlawanan. Ia teringat segmen tentang BJ Habibie atau tentang bagaimana kopi asal Toraja dipuja-puja di kafe elit Paris.

"Dulu, semuanya terasa sangat mungkin," gumam Daffa. Ia teringat Sabtu sore di bulan April 2016. Sore itu, udara terasa gerah. Daffa sudah siap dengan buku catatan kecilnya—kebiasaan barunya untuk mencatat hal-hal hebat yang ia tonton.

"Bu, kenapa hari ini pembawa acaranya bilang ini episode terakhir?" tanya Daffa kecil dengan suara bergetar, menatap layar televisi tabung yang menampilkan credit title bergerak naik.

Ibunya mendekat, mengusap kepala Daffa. "Mungkin kontraknya sudah habis, atau memang sudah waktunya ganti program baru, Nak."

"Tapi Bu, siapa lagi yang bakal bilang kalau Indonesia itu hebat? Kalau acaranya ganti sinetron atau gosip, nanti Daffa nggak tahu lagi kalau orang kita bisa bikin pesawat!" protes Daffa, matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa seolah jendela besar yang menghubungkan kamar sempitnya dengan dunia luar baru saja dibanting tutup di depan wajahnya. Vibe damai yang biasanya menyelimuti rumah mereka setiap Sabtu pukul lima sore, seketika menguap, digantikan oleh sunyi yang menyesakkan.

Kembali ke tahun 2025, Daffa menutup tab diskusi grupnya. Ia merasa terjebak dalam cultural lag. Di satu sisi, ia dididik secara akademis di jurusan International Relations untuk melihat realita yang pahit, penuh dengan persaingan power politics yang kejam. Di sisi lain, sisa-sisa semangat dari narasi Wow Indonesia masih berdenyut di nadinya, menolak untuk menyerah pada sinisme.

Rendy kembali masuk ke kamar, kali ini membawa dua cup kopi instan. "Daf, lo masih mikirin 'Sabtu Sakral' itu? Lo tahu kan, dunia sekarang nggak se-magical tontonan TV waktu kita kecil? Kita ini cuma butiran debu di tengah global supply chain."

Daffa menoleh, menatap sahabatnya tajam. "Justru itu masalahnya, Ren. Kita kehilangan sense of pride. Program itu bukan cuma jualan mimpi, mereka ngasih bukti. Sekarang, setiap Sabtu jam lima, gue ngerasa kayak ada yang hilang, seolah-olah soundtrack hidup gue tiba-tiba di-mute."

"Lo terlalu melankolis, Daf. Itu cuma program TV yang sudah tamat hampir satu dekade lalu," balas Rendy santai sambil menyeruput kopinya.

"Bukan cuma programnya yang tamat, Ren," sahut Daffa lirih, "tapi cara kita melihat diri sendiri juga seolah-olah ikut berhenti di tahun 2016. Gue kuliah di jurusan ini karena gue mau membuktikan kalau narasi di Wow Indonesia itu bukan sekadar skrip televisi. Gue mau ngerasain lagi pride yang dulu gue punya pas masih pakai seragam merah putih."

Daffa kembali menatap layar laptopnya yang kini menampilkan draf esai kuliahnya yang berjudul "Rebranding Indonesia's National Identity in Post-Modern Era". Ia menyadari bahwa pencariannya terhadap video lama itu bukan karena ia ingin bernostalgia semata, melainkan karena ia sedang mencari bahan bakar untuk jiwanya yang mulai skeptis menghadapi tuntutan realita tahun 2025.

Daffa tertegun di depan layar laptopnya. Kata-kata Rendy tentang "butiran debu di tengah global supply chain" terus terngiang, berbenturan keras dengan memori suara narator Wow Indonesia yang selalu terdengar heroik di telinganya. Ketegangan batin itu mencapai puncaknya ketika Daffa tanpa sengaja menemukan sebuah berkas lama di cloud storage miliknya—sebuah foto buram hasil jepretan kamera ponsel jadulnya di tahun 2016. Foto layar televisi yang menampilkan closing statem...

Read Entire Article