Lukman Hakim Saifuddin: Pilkada Lewat DPRD Harus Melalui Kajian Publik Mendalam

1 day ago 14
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wacana pengembalian mandat pemilihan kepala daerah (pilkada) kepada DPRD kembali memicu perdebatan hangat di awal tahun 2026. Ketua Forum Konstitusi yang juga Menteri Agama RI periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, memberikan catatan kritis bahwa perubahan mekanisme ini akan menjadi ujian serius bagi proses demokratisasi di Indonesia.

"Bila wacana itu terimplementasi, berarti rakyat tak lagi punya hak untuk memilih gubernur, bupati, dan walikota secara langsung dalam Pemilu sebagaimana selama ini. Akankah demokratisasi di tengah keragaman aspirasi menghadapi tantangan sekaligus ujian tersendiri?" tulis Lukman Hakim dalam pernyataan resminya, Senin (5/1/2026).

Lukman menjelaskan bahwa meski Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 memberikan ruang pemilihan secara "demokratis" tanpa harus seragam di seluruh wilayah, setiap perubahan regulasi tidak boleh dilakukan secara tertutup. Ia mendesak Presiden dan DPR untuk membuka ruang dialog yang luas sebelum memutuskan kebijakan tersebut.

"Maka bila kini Presiden dan DPR hendak menetapkan UU terkait pemilihan kepala daerah, haruslah dilakukan secara demokratis. Kedua lembaga negara tersebut haruslah terlebih dahulu adakan berbagai forum dengar pendapat (public hearing) dan kajian mendalam terkait aspirasi masyarakat," tegasnya. Menurutnya, keterlibatan akademisi, masyarakat sipil, hingga pers adalah syarat mutlak demi menjaga akuntabilitas pemerintah.

Persoalan Biaya Politik dan Efisiensi

Isu Pilkada via DPRD ini kembali menguat seiring evaluasi besar-besaran terhadap sistem Pilkada Serentak. Salah satu pemicu utamanya adalah keprihatinan atas tingginya biaya politik dalam pemilihan langsung yang dinilai berkorelasi kuat dengan tingginya angka korupsi kepala daerah.

Biaya politik dalam Pilkada menjadi sangat tinggi karena sistem pemilihan langsung menuntut calon kepala daerah untuk mengeluarkan anggaran masif guna membangun popularitas dan elektabilitas secara instan melalui kampanye terbuka yang luas.

Pengeluaran tersebut mencakup biaya logistik alat peraga, iklan di media massal, hingga operasional saksi di ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS). Biaya tinggi juga dipicu oleh praktik "mahar politik" untuk mendapatkan dukungan partai, biaya konsultan politik, serta masih maraknya politik uang (money politics) untuk memikat suara masyarakat, sehingga kompetisi ini sering kali berubah menjadi adu kekuatan modal yang membebani kandidat.

Argumen mengenai efisiensi anggaran negara dan mitigasi konflik sosial di tingkat akar rumput menjadi dasar bagi pihak-pihak yang mendorong revisi mekanisme pemilihan.

Enam Poin Penolakan PUSaKO UNAND

Senada dengan kekhawatiran tersebut, Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas (UNAND) turut menyatakan sikap tegas. Direktur PUSaKO, Charles Simabura, menyampaikan enam poin penting untuk merespons isu ini. Pertama, PUSaKO menegaskan pentingnya mempertahankan sistem pemilihan langsung sebagai bentuk konkret kedaulatan rakyat.

sumber : Antara

Read Entire Article