Tripoli (ANTARA) - Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibah, Sabtu (24/1), mengatakan bahwa produksi minyak negaranya mencapai puncaknya dalam 12 tahun pada 2025, naik menjadi 1,37 juta barel per hari.
Berbicara pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Energi dan Ekonomi Libya (LEES) 2026 di Tripoli, Dbeibah mengatakan tahun lalu produksi dimulai di beberapa ladang minyak di seluruh negeri, termasuk Iravn, Mutahandush, al-Khayr, Hamada 47, dan Sinawan.
Dbeibah juga mengatakan Libya meluncurkan putaran perizinan eksplorasi minyak dan gas alam pertamanya dalam 17 tahun pada 2025, yang menarik minat kuat dari perusahaan energi internasional.
Dia mengatakan hasil tender tersebut diharapkan akan diumumkan pada pekan kedua Februari.
Menunjuk pada perjanjian baru yang diharapkan pada KTT tersebut, Dbeibah mengatakan kesepakatan akan ditandatangani untuk mengembangkan dua ladang gas alam lepas pantai.
"Perjanjian antara Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC) dan TotalEnergies Prancis, serta ConocoPhillips yang berbasis di AS akan diubah.
Perjanjian tersebut akan berlaku selama 25 tahun dan mencakup investasi yang melebihi 20 miliar dolar AS," katanya.
Dia menambahkan bahwa KTT tersebut juga akan menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman dengan perusahaan energi AS Chevron yang mencakup eksplorasi, pengembangan lapangan, dan peluang produksi, serta perjanjian kerja sama dengan Mesir tentang eksplorasi, produksi, dan layanan logistik terkait.
Sebagai anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Libya termasuk di antara 10 negara teratas di dunia dalam cadangan minyak terbukti, yang diperkirakan mencapai 48,4 miliar barel, menurut data OPEC. Cadangan gas alam terbukti diperkirakan sekitar 1,5 triliun meter kubik.
Dengan paparan sinar matahari yang tinggi dan wilayah geografis yang luas, Libya juga memiliki potensi energi terbarukan yang signifikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, menstabilkan produksi minyak dan gas, meningkatkan infrastruktur energi, dan mengintegrasikan sumber energi terbarukan ke dalam bauran energi nasional tetap menjadi prioritas utama nasional Libya.
Sumber: Anadolu
Baca juga: AS pertimbangkan blokade total minyak terhadap Kuba
Baca juga: RI perlu antisipasi dampak jangka panjang kebakaran depot minyak Rusia
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

3 hours ago
6






































