REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suara itu datang menjelang senja. Bukan dari masjid di dekat rumah, melainkan dari layar televisi yang saban sore menyala di sudut ruang. Namun justru dari sanalah, panggilan itu mengetuk hati Maria Leoni, pelan, berulang, dan tak pernah benar-benar pergi.
Maghrib di Pemalang, sekitar dua dekade silam, selalu terasa berbeda bagi Maria Leoni. Saat itu ia masih seorang siswi SMA berusia 17 tahun, lahir dari keluarga Tionghoa tulen dengan latar keyakinan Konghucu. Ayahnya bermarga Tan, ibunya Li. Islam sama sekali bukan agama yang tumbuh bersamanya sejak kecil.
Namun setiap kali adzan Maghrib berkumandang di televisi, ada getar yang tak bisa ia jelaskan. “Kalau dengar adzan itu, saya tuh senang. Hati rasanya tenang. Padahal cuma dari TV,” kenang Leoni, kini berusia 37 tahun, saat bercerita kepada Republika, Selasa (6/1/2026).
Ia tak langsung mengerti maknanya. Tapi suara adzan itu terus memanggil, seolah menjadi jembatan sunyi antara dirinya dan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa ingin tahu.
Menjadi Muslim dalam Diam
Maria Leoni lahir di Pemalang, namun darah Pekalongan mengalir dari ayahnya. Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keluarga besar Tionghoa. Kedua orang tuanya telah wafat. Dalam usia belia, ia ikut tinggal bersama tantenya dari jalur keluarga ibu.
Ketertarikannya pada Islam bermula secara sederhana. Rasa penasarannya tumbuh dari telinga, bukan dari buku atau dakwah langsung. Ia mulai bertanya pada teman-temannya yang Muslim. Tentang sholat, tentang Islam, tentang Tuhan.
“Dibantu teman-teman, akhirnya saya masuk Islam. Waktu itu ya sama teman saja,” tuturnya.
Tak ada perayaan. Tak ada keluarga yang menyaksikan. Syahadat itu lahir dalam kesederhanaan, dan juga kesendirian. Ia pun mulai sholat, belajar sebisanya. Bahkan ketika mengikuti bimbingan belajar (bimbel) sepulang sekolah, ia kerap menumpang sholat di sana. Dari situlah takdirnya kembali bergerak.
Pemilik bimbel, seorang perempuan yang akrab disapa Bu Haji Sri, memperhatikannya. Meski Maria belum mengenakan hijab dan wajah Tionghoanya sangat kentara, ia tetap dipersilakan sholat. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir—bukan menghakimi, melainkan merangkul.

1 day ago
10




































