Komnas Perempuan: Suka Sama Suka Tak Hapus Unsur Pidana Child Grooming

1 day ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Suasana rapat dengar pendapat Komisi XIII dengan Kementerian HAM, Komnas HAM, Komnas Perempuan dan LPSK terkait pelanggaran HAM terhadap perempuan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Wakil Ketua Komisi Paripurna Komnas Perempuan Ratna Batara Munti menegaskan anak tidak memiliki kapasitas hukum untuk memberikan persetujuan (consent) atas relasi maupun tindakan seksual.

Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/2).

“Undang-Undang Perlindungan Anak jelas menegaskan bahwa anak harus dilindungi dari segala bentuk eksploitasi dan kekerasan seksual, termasuk tindakan yang menjerumuskan anak ke dalam situasi atau relasi seksual, baik secara langsung maupun tidak langsung,” kata Ratna.

“Dalam hukum Indonesia, anak tidak memiliki kapasitas hukum untuk memberikan persetujuan, consent, atas relasi atau tindakan seksual,” lanjutnya.

Ia menegaskan dalih hubungan pacaran suka sama suka tidak menghilangkan unsur pidana dalam child grooming.

“Oleh karena itu, klaim suka sama suka, bahkan bucin, tidak menghapus unsur pidana dalam kasus child grooming. Dan di dalam instrumen internasional, konvensi-konvensi, Indonesia, pemerintah Indonesia juga sudah meratifikasi seperti Konvensi Hak Anak, Konvensi PBB, yang diadopsi tahun 2024, yang mengakui di dalam kejahatan siber adanya perbuatan-perbuatan child grooming dalam kejahatan pelecehan seksual online maupun eksploitasi seksual,” ujarnya.

Suasana rapat dengar pendapat Komisi XIII DPR dengan Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan LPSK tentang child grooming di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Berdasarkan hasil pemantauan Komnas Perempuan, praktik child grooming banyak terjadi dalam relasi pacaran anak dan remaja, serta meninggalkan dampak jangka panjang hingga usia dewasa muda.

“Data-data hasil pemantauan kami dari Komnas Perempuan, ini dalam relasi pacaran dan kekerasan yang dilakukan oleh mantan pacar ini juga sangat tinggi. Jadi kasus kekerasan itu sudah muncul pada usia 14 sampai 17 tahun, mengindikasikan praktik child grooming dalam relasi pacaran anak dan remaja. Dan usia 18 sampai 24 tahun mencatat lonjakan kasus tertinggi, menunjukkan dampak lanjutan grooming yang dimulai sejak korban masih anak,” kata Ratna.

Ia menjelaskan, kekerasan yang dilakukan oleh mantan pacar tercatat lebih tinggi di seluruh kelompok usia, yang menunjukkan adanya pola kontrol dan manipulasi yang berlanjut meski relasi telah berakhir.

“Dan kekerasan oleh mantan pacar juga lebih tinggi di semua kelompok usia, menandakan pola kontrol, manipulasi, dan kekerasan yang berlanjut setelah relasi berakhir,” ujarnya.

Komnas Perempuan juga memetakan sejumlah pola child grooming yang kerap muncul berdasarkan pengaduan yang diterima lembaganya.

“Ini pola-pola child grooming yang terjadi, mulai pola teman dekat dan pendengar, pola pemberian hadiah dan validasi, pola normalisasi seksual bertahap, pola rahasia dan isolasi, pola manipulasi rasa bersalah dan takut, serta pola ancaman dan pemerasan seksual,” kata Ratna.

Menurut Ratna, child grooming merupakan bentuk kekerasan berbasis...

Read Entire Article