Notifikasi berbunyi hampir tanpa henti. Email masuk, pesan kerja berdatangan, rapat daring silih berganti. Secara teknis, kita terhubung sepanjang hari. Namun anehnya, di tengah koneksi yang begitu intens, arah kerja justru sering terasa tidak jelas.
Banyak tim bekerja dalam ritme yang cepat, tapi tanpa pemahaman tujuan yang sama. Informasi memang mengalir deras, namun tidak selalu bermakna. Pesan berpindah dari satu platform ke platform lain, tetapi konteks sering hilang di tengah jalan. Akibatnya, kerja menjadi sibuk, bukan efektif.
Konektivitas yang tinggi juga memunculkan ilusi produktivitas. Selama selalu online dan responsif, seseorang dianggap bekerja. Padahal, kehadiran digital tidak otomatis berarti kontribusi yang tepat sasaran. Tanpa arah yang jelas, energi habis untuk merespons, bukan merancang langkah ke depan.
Masalah lain muncul ketika komunikasi lebih fokus pada apa yang harus dikerjakan, bukan mengapa pekerjaan itu penting. Ketika tujuan besar tidak pernah benar-benar dibicarakan, setiap individu menafsirkan arah kerja dengan caranya sendiri. Di sinilah kesalahan arah mulai terjadi.
Teknologi seharusnya membantu menyelaraskan kerja, bukan sekadar mempercepat arus komunikasi. Tanpa visi bersama dan ruang diskusi yang sehat, koneksi digital justru memperbesar jarak pemahaman antaranggota tim.
Di era serba terhubung, tantangan terbesar bukan lagi soal akses komunikasi, melainkan soal menyamakan arah. Karena bekerja bersama bukan hanya tentang selalu online, tetapi tentang bergerak menuju tujuan yang sama.

1 day ago
12



































