REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Al-Azhar, Dr. Ahmed Al-Tayeb, mengeluarkan imbauan tegas kepada keluarga-keluarga di Mesir untuk menghentikan praktik mahar yang berlebihan, menyusul lonjakan harga emas yang tidak wajar dan mempersulit pernikahan di tengah kondisi ekonomi sulit.
Dalam pidatonya pada konferensi "Berinvestasi dalam Wacana Keagamaan untuk Melindungi Hak-Hak Perempuan," beliau menegaskan bahwa fenomena mahar yang membengkak telah menjadi hambatan tidak masuk akal dan tidak logis, yang membuat pernikahan semakin sulit dihadapi masyarakat, sambil mengkritik "keheningan yang mencurigakan" dari para ulama dan pendakwah terhadap kebiasaan ini yang semakin mengakar, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.
Imam Besar menjelaskan bahwa hakikat mahar dalam Islam adalah sebagai simbol kasih sayang, bukan sebagai bentuk kebodohan, pemborosan, atau kesombongan, karena biaya mahal tersebut sering memaksa keluarga sederhana terjebak utang dan penderitaan berkepanjangan yang mengganggu ketenangan hidup mereka siang dan malam.
Syekh Al-Azhar mengutip dalil-dalil syariat yang mendorong kemudahan dalam mahar, mengingatkan bahwa Rasulullah SAW menerima mahar paling sederhana seperti cincin besi atau hafalan satu surah Al-Qur'an, bukan untuk merendahkan nilai istri, melainkan untuk menempatkan segala sesuatu pada proporsinya, karena kasih sayang sejati tidak bisa diukur dengan nilai materi duniawi.
Dia memperingatkan bahwa kelanjutan fenomena ini telah memperluas masalah "keperawanan" di kalangan perempuan dan "selibat" di kalangan pemuda, yang menimbulkan tekanan psikologis berat bagi mereka.
Imam Besar menekankan bahwa langkah awal dalam memperbarui wacana keagamaan adalah dengan menyajikan kembali isu ini secara benar, guna mempermudah pembentukan keluarga dan melindunginya dari kehancuran akibat beban utang serta pencitraan palsu.
Di akhir pidato, Syekh Al-Azhar menyatakan bahwa waktu tidak mencukupi untuk membahas penyalahgunaan isu poligami dan perceraian, dua fenomena di mana umat Islam telah menyimpang dari syariat dan tujuan mulia dalam menghormati kemanusiaan serta hak perempuan untuk dihargai perasaannya.
Harga emas di pasar Mesir baru-baru ini mengalami inflasi luar biasa, dengan harga per gram melonjak tajam akibat fluktuasi ekonomi global dan nilai tukar mata uang yang tidak stabil. Akibat kenaikan harga yang sangat cepat ini, pembelian "shabka" atau hadiah emas dari mempelai pria kepada mempelai wanita menjadi beban berat yang menghabiskan sebagian besar anggaran pernikahan, bahkan sering melebihi kemampuan finansial kaum muda.
Sebagai respons terhadap biaya tinggi tersebut, muncul inisiatif dari kalangan pemuda di sejumlah desa dan kota di Mesir dengan slogan "Hapus Mas Kawin" atau "Permudah Mas Kawin", yang menyerukan untuk tidak memberikan emas atau hanya cincin sederhana, serta mengalihkan dana tersebut untuk kebutuhan perabot rumah tangga; meski demikian, inisiatif ini masih mendapat resistensi dari adat istiadat turun-temurun yang oleh sebagian pihak dipandang sebagai upaya menjaga martabat dan status perempuan.
sumber : Antara

1 day ago
11






































