Gelombang demonstrasi terjadi di sejumlah wilayah Iran sejak akhir 2025 hingga 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Human Rights Activists News Agency/HRANA) melaporkan pada Ahad (4/1/2026), gelombang protes di Iran telah menyebabkan 20 orang tewas dan hampir 1.000 orang ditangkap. Demonstrasi yang telah memasuki hari kedelapan berturut-turut itu telah menyebar ke sedikitnya 222 lokasi di 78 kota dan 26 provinsi.
Menurut laporan rinci lembaga pers yang didirikan pada 2009 oleh para aktivis HAM Iran itu, aksi massa mencakup unjuk rasa di jalanan, pemogokan buruh, serta aksi yang dipimpin oleh mahasiswa universitas dengan sedikitnya 990 orang telah ditangkap sejak awal protes. Meski begitu, HRANA menyebut, jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
HRANA juga mencatat sebanyak 17 universitas terlibat dalam gelombang protes. Angka itu terus berlanjut meskipun aparat keamanan meningkatkan pengerahan pasukan dan melakukan berbagai upaya untuk membubarkan massa.
Sedikitnya 20 orang tewas selama kerusuhan berlangsung, termasuk seorang anggota aparat keamanan dan penegak hukum, menurut laporan tersebut. Selain itu, setidaknya 51 orang lainnya terluka yang sebagian besar diakibatkan oleh tembakan peluru karet dan butiran peluru plastik yang dilepaskan oleh aparat keamanan.
Korban tewas terdiri dari mahasiswa, buruh, dan warga sipil, dengan rentang usia antara 16 hingga 45 tahun. HRANA juga mengonfirmasi bahwa seorang pengacara bernama Nasser Rezaei Ahangarany dipukuli oleh aparat keamanan saat protes di Khorramabad pada 3 Januari 2025.
Secara terpisah, kantor berita Kurdpa melaporkan, sedikitnya 30 orang terluka dalam demonstrasi di Malekshahi. Lebih lanjut, HRANA menuturkan, penangkapan yang telah dikonfirmasi terjadi di berbagai kota dan melibatkan baik individu maupun kelompok.

1 day ago
11



































