Bersabar dalam Penolakan: Luka Saat Menjadi “Yang Diasingkan"

14 hours ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Saya mendengarkan berbagai kisah tentang luka psikologis, salah satunya dari seorang klien di ruang konseling tentang pengalamannya menjadi individu yang “diasingkan” di lingkungannya sendiri. Pengalaman tersebut bukan sekadar tentang kesepian, melainkan tentang perasaan tidak diterima dan tidak dihargai secara berulang.

Klien tersebut kerap dipersepsikan sebagai beban dan dianggap kurang mampu oleh orang-orang di sekitarnya. Setiap kali ia berupaya membantu, respons yang diterimanya justru berupa penolakan atau ucapan yang meremehkan. Situasi ini secara perlahan membentuk pengalaman psikologis yang menyakitkan sebagai luka psikologis (trauma), karena kehadirannya seolah tidak diakui dan kontribusinya tidak pernah dianggap berarti.

Ilustrasi orang "yang diasingkan". Sumber gambar oleh idn.freepik.com

Pada akhirnya, klien menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan mengalah. Sikap mengalah ini dapat dipahami sebagai upaya klien untuk bersabar terhadap kondisi yang ia alami. Ia memilih tetap berada dalam lingkungan tersebut, menahan diri untuk tidak membalas perlakuan yang melukai, terutama karena ia merasa tidak memiliki daya atau ruang untuk melawan. Harga dirinya telah terluka, dan bertahan menjadi pilihan yang terasa paling mungkin saat itu.

Namun, seiring berjalannya waktu, posisi sebagai pihak yang terus mengalah justru menimbulkan kelelahan emosional. Meskipun secara lahiriah klien tampak baik-baik saja, pada kenyataannya ia menyimpan perasaan murung, sedih, dan kehilangan semangat. Hidup di tengah lingkungan yang minim penerimaan dan empati bukanlah pengalaman yang mudah untuk dijalani.

Bagi klien ini, luka terdalam bukan semata-mata karena kehilangan pertemanan, melainkan kesadaran bahwa ia tidak pernah benar-benar diterima apa adanya. Kesadaran tersebut memang menyakitkan, tetapi sekaligus dapat menjadi titik awal untuk proses pemulihan.

Pemulihan bukanlah proses yang instan. Klien mungkin telah berusaha bersabar, menahan diri, dan bertahan sejauh yang ia mampu. Namun, memaafkan—terutama setelah luka harga diri—adalah proses yang memerlukan waktu. Tidak semua individu dapat langsung sampai pada tahap tersebut.

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang utama (mulia).”

Kata ‘azm (عَزْمِ) mengandung makna kekuatan tekad, kesungguhan, dan keteguhan hati. Istilah ‘azmi al-umūr merujuk pada perkara-perkara yang dimuliakan dan diutamakan, yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh mereka yang memiliki keteguhan dan kemauan yang kuat. Hal ini mengisyaratkan bahwa bersabar dan memaafkan adalah sesuatu yang berat dan menantang, sehingga balasannya pun berupa keutamaan dan kemuliaan.

Dengan demikian, wajar apabila seseorang yang memiliki luka psikologis (trauma) membutuhkan waktu untuk mampu bersabar dan memaafkan. Proses tersebut tidak menandakan kelemahan, melainkan perjuangan batin yang nyata. Bagi sebagian orang, jalan ini terasa lebih ringan ketika Allah memberikan pertolongan dan ketika individu tersebut bersungguh-sungguh melawan dorongan emosionalnya serta memohon kekuatan kepada-Nya.

Memaafkan bukan berarti melupakan apa yang telah terjadi. Memaafkan juga tidak mengubah masa lalu. Namun, memaafkan dapat menjadi arah bagi jiwa untuk bergerak menuju ketenangan, agar seseorang dapat kembali menemukan dirinya sebagai pribadi yang utuh, pulih dan mencapai kesehatan mental.

Read Entire Article