REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penandatanganan piagam Dewan Perdamaian alias Board of Peace di Davos, Swiss, pada Kamis disertai belasan pemimpin negara mayoritas Muslim. Apa alasan mereka bergabung dengan dewan bikinan Presiden AS Donald Trump yang dicurigai bakal menyaingi PBB tersebut.
Trump sedianya mengundang sekitar 60 negara untuk menempatkan wakil mereka di Dewan Perdamaian. Meski begitu, hanya 20 lebih yang menerima undangan tersebut. Dari jumlah itu lebih dari separuh adalah wakil dari negara mayoritas Muslim.
Diantaranya Kepala Staf Istana Perdana Menteri Bahrain, Isa bin Salman bin Hamad Al Khalifa; Menteri Luar Negeri Maroko, Nasser Bourita; Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev; Presiden Indonesia Prabowo Subianto; Menlu Yordania Ayman Al Safadi; Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Kosovo Vjosa Osmani-Sadriu, PM Pakistan Mian Muhammad Shehbaz Sharif; PM Qatar Mohammed Bin Abdulrahman Al Thani; Menlu Saudi Faisal bin Farhan Al Saud; Menlu Turki Arab Hakan Fidan; utusan khusus AS untuk UEA Khaldoon Khalifa Al Mubarak; dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.
Patut dicatat bahwa antusiasme negara-negara Muslim bergabung itu tak serupa dengan pihak-pihak lain yang juga diundang. Seluruh anggota Dewan Keamanan PBB kecuali AS sejauh ini belum bergabung. Cina, Inggris dan Prancis menolak bergabung, sementara Rusia belum memutuskan sikap.
Justru PM Israel Benjamin Netanyahu yang telah menyatakan siap bergabung dengan dewan meski tak ikut dalam penandatangan pada Kamis. Israel juga masih menunjukkan keberatan soal kesertaan Turki dan Qatar dalam dewan tersebut.
Sejumlah negara-negara Eropa seperti Spanyol, Italia, Swedia, Norwegia, dan Slovenia juga menolak bergabung meski diundang. Sementara Kanada dicabut undangannya oleh Trump.
Sebelum penandatangan di Davos, Indonesia telah mengumumkan kesertaannya bersama negara-negara Muslim lainnya seperti Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Qatar.
Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri secara resmi mengumumkan keputusan negara mereka untuk berpartisipasi dalam Dewan, dengan menyatakan bahwa setiap pemerintah akan menyelesaikan langkah-langkah hukum dan administratif yang diperlukan untuk menyelesaikan keanggotaan mereka.
Para menteri menegaskan kembali dukungan mereka terhadap upaya perdamaian berkelanjutan yang dipelopori oleh Presiden Trump, dan menyatakan komitmen kolektif terhadap misi Dewan Perdamaian.
Trump memang awalnya mengusulkan pembentukan dewan tersebut ketika dia mengumumkan rencananya pada September lalu untuk mengakhiri serangan gencar di Gaza. Awalnya badan ini dimaksudkan untuk mengawasi perdamaian di Gaza setelah serangan gencar Israel selama dua tahun di daerah kantong Palestina. Namun, piagam dewan tersebut membayangkan peran yang lebih luas dalam menyelesaikan konflik internasional.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyatakan keputusan bergabung dengan dewan memang diambil melalui konsultasi intensif dengan negara-negara lain yang tergabung dalam Group of New York, yang mendesak kemerdekaan Palestina dalam forum di PBB tahun lalu. Dari konsultasi itu, sejumlah negara Muslim yang disebut di atas kemudian sepakat untuk bergabung.
Indonesia meyakini keberadaan BoP merupakan langkah konkret yang telah lama dinantikan dalam mengawal proses perdamaian Palestina. Ia juga mengharapkan negara-negara yang bergabung akan memastikan setiap kebijakan yang dihasilkan tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina.
Presiden Prabowo juga mengaitkan kesertaan itu sebagai momentum bersejarah sekaligus peluang nyata untuk mendorong upaya perdamaian, khususnya bagi rakyat Palestina. “Ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza,” kata Presiden Prabowo.
Dalam keterangannya, Kepala Negara juga menyampaikan perkembangan positif di wilayah konflik Gaza sehubungan gencatan senjata yang dicapai sejak Oktober tahun lalu.
“Yang jelas penderitaan rakyat Gaza sudah berkurang, sangat berkurang. Bantuan-bantuan kemanusiaan begitu deras, begitu besar masuk, sudah masuk. Saya sangat berharap dan Indonesia siap ikut serta,” kata Prabowo.

4 hours ago
3






































