Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis

1 day ago 11
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi putus cinta. Foto: Shutter Stock

Mencintaimu adalah ibadah paling melelahkan yang pernah aku jalani. Ia bukan doa yang hening, melainkan ritus panjang yang memaksa lutut aku bersentuhan dengan batu dan duri, sementara kening ditekan agar terus bersujud pada satu nama yang sama: Indonesia.

Engkau aku agungkan seperti kekasih purba yang tak boleh dipertanyakan, bahkan ketika tanganmu berlumur luka yang kau samarkan di balik senyum upacara dan pidato kenegaraan.

Aku mencintaimu dalam letih—dan barangkali justru karena itulah cinta ini terasa paling jujur, karena ia lahir bukan dari kemenangan, melainkan dari kelelahan yang tak pernah diberi jeda.

​Engkau indah, Indonesia, dan keindahanmu adalah kutukan yang diwariskan lintas generasi. Tubuhmu terbentang seperti puisi geografi yang nyaris sempurna: punggung pegunungan menantang langit dengan kesombongan batu purba, hutan-hutanmu adalah rambut hijau yang dibiarkan terurai angin khatulistiwa, dan lautmu—ah, lautmu—sepasang mata yang mampu menenggelamkan kesedihan sekaligus menyimpan terlalu banyak rahasia.

Rempah-rempahmu adalah aroma kulit yang sejak berabad silam membuat dunia kehilangan nalar, menukar kemanusiaan dengan kerakusan. Engkau adalah perwujudan agung yang membuat bangsa-bangsa lain iri: sebuah kemolekan geopolitik yang memesona sekaligus mematikan.

​Namun, justru dari pesona itulah tragedi bermula. Di balik simetri yang memikat, engkau menjelma kekasih yang beracun.

Aku jatuh cinta pada wajahmu, lalu perlahan diracun oleh caramu memperlakukan anak-anakmu sendiri. Setiap hari engkau menyodorkan piala kebanggaan nasional, tetapi isinya empedu yang harus aku telan sambil tersenyum. Kesetiaan ditagih sebagai kewajiban moral, bahkan ketika tubuh aku mulai keropos oleh ketidakadilan yang kaubiarkan tumbuh subur seperti jamur di dinding rumah sendiri.

​Keletihan aku menemukan bentuknya, ketika aku menyadari bahwa kecantikanmu hanyalah topeng porselen yang menutupi pembusukan sistematis.

Di ranjang peradaban yang katanya merdeka ini, aku dipaksa memeluk kemiskinan seperti pasangan tidur yang tak pernah diusir, sementara engkau memamerkan perhiasan pembangunan yang dicuri dari keringat aku sendiri. Ketidakadilan tak lagi datang sebagai tamu; ia telah menjadi penghuni tetap, pemilik sertifikat rumah yang menentukan siapa yang boleh hidup layak dan siapa yang cukup bertahan dari sisa-sisa.

​Dalam lanskap itu, para elite tampil sebagai filantrops: suara berat, dahi berkerut penuh kepedulian dari hasil menjarah harta rakyat dengan tangan mereka cekatan merogoh kantong rakyat yang telah lama berlubang.

Mereka adalah selingkuhan kekuasaan yang kau biarkan meniduri hukum di kamar-kamar hotel berpendingin udara, sementara aku—anak-anakmu yang setia—menunggu di luar dengan perut kosong dan harapan yang memucat. Negara berubah menjadi pesta tertutup; rakyat hanya diundang sebagai penonton yang diminta bertepuk tangan.

​Hukum, yang seharusnya menjadi tulang punggung keadilan, turut kehilangan martabatnya.

Ia menjelma komoditas: setajam silet bagi mereka yang hidup tanpa perlindungan, namun tumpul dan selembut beludru ketika menyentuh kulit para pemilik kuasa danupeti. Aparat yang seharusnya melindungi justru berubah menjadi tangan dingin yang mencekik kebenaran. Seragam kebanggaan dikenakan seperti zirah, tetapi di baliknya bersembunyi hasrat purba untuk menguasai, menundukkan, dan menagih. Mereka menjadi Bandit berseragam negara.

​Bersamaan dengan itu, moralitas dijual laksana bala-bala jahanan pinggir jalan di pasar kekuasaan. Kejujuran dicibir sebagai kebodohan, integritas dianggap gangguan mental, sementara keculasan dipuja sebagai kecerdikan.

Aku lelah memuja bayang-bayangmu yang agung, sebab realitas yang aku sentuh saban hari hanyalah duri. Mencintaimu terasa seperti memeluk kaktus: semakin erat aku mendekap atas nama nasionalisme, semakin dalam duri-duri korupsi menghujam jantungku.

​Akupun kembali mengingat lagu yang dulu aku nyanyikan dengan suara bergetar dibawah terik matahari upacara: Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku.

Kalimat itu pernah terdengar sakral, seperti janji abadi antara anak dan ibu.