Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku masih terus memantau dampak ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela terhadap Indonesia.
Airlangga menilai hingga saat ini belum terlihat adanya gejolak signifikan pada harga minyak dunia. Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 34 sen menjadi USD 60,41 per barel pada pukul 23.08 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada pada USD 56,91 per barel, turun 41 sen pada perdagangan Senin (5/1).
“Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar per barel. Nanti kita monitor saja,” kata Airlangga kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/1).
Selain itu, kata Airlangga, kerja sama Indonesia dengan Venezuela juga masih terus dipantau seiring dinamika politik yang berkembang di negara tersebut.
Ia mengingatkan hubungan AS dan Venezuela memang sejak lama diwarnai ketegangan, terutama sejak kebijakan nasionalisasi aset-aset milik AS pada masa pemerintahan Presiden Hugo Chavez.
“Nah ini kemudian berikutnya kan sekarang dengan situasi seperti ini ya kita monitor aja seperti apa,” tutur Airlangga.
AS melancarkan rentetan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1) dini hari. Operasi militer tersebut berujung dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS. Pemerintah Venezuela menuduh AS melanggar hukum internasional atas serangan tersebut. Kini Maduro telah berada di wilayah AS.

1 day ago
12



































