Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun terdapat penurunan outlook dari lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody's.
Menurutnya, perubahan outlook tersebut bukan disebabkan oleh melemahnya kondisi dasar perekonomian nasional, melainkan lebih pada aspek komunikasi dan persepsi kebijakan.
"Bukan negatif ya, tapi downgrade outlook-nya ya, kalau dari sisi fundamental tidak berubah," ujar Anggito ditemui di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan jika mencermati pernyataan lembaga pemeringkat seperti Moody’s, sorotan utama lebih mengarah pada aspek prediktabilitas dan kredibilitas kebijakan pemerintah, terutama dalam hal transparansi dan kepastian arah program.
"Saya kira kalau kita membaca statement dari Moody's itu kan lebih banyak pada prediktibilitas dan kreditibilitas dari kebijakan, dalam rangka untuk menyampaikan transparansi atau kepastian," katanya lagi.
Anggito menilai kondisi tersebut seharusnya dapat dilakukan mitigasi dengan memperkuat komunikasi antara pemerintah dan lembaga pemeringkat.
Menurutnya, sejumlah program yang dinilai belum sepenuhnya dipahami, perlu dijelaskan secara lebih komprehensif.
"Jadi menurut saya, ini harusnya bisa dimitigasi. Artinya, komunikasi dengan Moody's harus lebih bagus. Soal-soal yang mungkin tidak jelas bagi rating agensi, seperti Danantara, BGN, kemudian sekolah rakyat," ucap dia.
Sebelumnya, lembaga pemeringkat kredit global Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun tetap mempertahankan peringkatnya pada level Baa2, atau satu tingkat di atas batas investment grade.
Dalam pengumumannya, Moody’s menyampaikan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, serta kualitas koordinasi antarkementerian/lembaga di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola pengelolaan perekonomian yang sedang berjalan.
Moody's juga menyampaikan pentingnya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja-belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Sementara itu, lembaga pemeringkat kredit lain yaitu S&P Global masih belum menyampaikan laporan terbarunya, yang mana laporan terakhirnya masih mempertahankan outlook stabil untuk Indonesia.
Baca juga: LPS yakin momen Ramadhan pacu pertumbuhan kredit
Baca juga: LPS relaksasi pembayaran premi 104 bank terdampak bencana di Sumatera
Baca juga: LPS: Progres program penjaminan polis sudah capai hingga 85 persen
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








































