Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.870 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.877 per dolar AS.
Namun, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kurs rupiah berpotensi melemah seiring ancaman Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran.
"Pengumuman ini telah meningkatkan ketegangan perdagangan antara AS dan China, terutama karena China merupakan importir utama minyak Iran," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Mengutip Anadolu, Trump mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap semua negara yang masih berdagang dengan Iran.
Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut bersifat final dan akan diberlakukan sesegera mungkin, meski belum ada rincian soal penerapannya.
"Hari ini, rupiah diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS," ujar Josua.
Adapun sentimen lainnya berasal dari rilis data inflasi headline (Indeks Harga Konsumen/IHK) AS pada Desember 2025 yang tetap stabil di 2,7 persen year on year (yoy) atau sesuai ekspektasi, sementara inflasi inti tak berubah di 2,6 persen yoy atau di bawah perkiraan pasar sebesar 2,7 persen yoy.
Selain itu, data penjualan rumah baru Oktober 2025 sebesar 737 ribu dari 738 ribu, tetapi melebihi ekspektasi sebesar 715 ribu.
"Ini menunjukkan bahwa permintaan konsumen tetap tangguh," ujar dia.
Baca juga: Rupiah pada Rabu pagi menguat jadi Rp16.870 per dolar AS
Baca juga: Rupiah melemah, investor hati-hati terhadap aset berisiko
Baca juga: Rupiah melemah, pejabat Fed beri pernyataan hawkish terkait suku bunga
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




































