Kuala Lumpur (ANTARA) - Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menyatakan siapa pun yang tidak menerima penggunaan Bahasa Melayu sebaiknya tidak tinggal di Malaysia.
Dalam pembukaan Sidang Pertama Masa Jabatan Ke-15 Parlemen Malaysia di Kuala Lumpur, Senin (19/1), ia menekankan bahwa Bahasa Melayu merupakan bahasa kebangsaan Malaysia.
"Bahasa Melayu harus menjadi bahasa utama karena merupakan bahasa kebangsaan. Kalau ada yang tidak terima Bahasa Melayu, lebih baik jangan duduk [tinggal] di Malaysia," katanya.
Ia menyampaikan bahwa pembangunan sistem pendidikan baru harus selaras dengan kebijakan pendidikan nasional Malaysia yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama.
Sultan Ibrahim meminta setiap usulan sistem pendidikan untuk menerima Bahasa Melayu dan sejarah Malaysia sebagai bagian penting dalam pembelajaran.
Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa pembentukan Malaysia didasarkan pada Perjanjian Malaysia 1963 yang menyatukan Tanah Melayu, Sabah, dan Sarawak sebagai sebuah negara.
Ia mengajak seluruh pihak untuk kembali pada niat awal pembentukan Malaysia, yakni memperkuat persatuan, saling menghormati, serta kerja sama erat antara negara-negara bagian dan pemerintah persekutuan.
Sultan Ibrahim juga meminta para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Malaysia agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan, sehingga tidak menghasut atau menimbulkan ketegangan.
Ia menegaskan bahwa setiap perbedaan pandangan harus diselesaikan secara matang, bukan melalui kebencian atau prasangka. Hak-hak negara bagian harus tetap dihormati, tetapi kepentingan Malaysia secara keseluruhan harus selalu diutamakan, katanya.
Selain itu, Sultan Ibrahim mengingatkan agar setiap perdebatan, keputusan, dan pengambilan suara di parlemen tidak hanya didasarkan pada kepentingan politik partai, tetapi juga pada pertimbangan masa depan negara.
Baca juga: Raja Malaysia kecewa dengan korupsi di tubuh militer
Baca juga: PM Anwar Ibrahim laporkan upaya pemberantasan korupsi ke Raja Malaysia
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

4 days ago
14






































