Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai eskalasi politik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, khususnya pasar saham.
Menurutnya, reaksi pasar setelah peristiwa ini justru menunjukkan sentimen yang positif.
"Kalau saya lihat sih agak jauh, kalau anda lihat pasar saham kan malah naik kan, jadi mereka melihat justru sedikit positif kan, agak aneh sebenarnya. Tapi itu yang dilihat pasar," kata Purbaya ditemui sebelum melakukan rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Dari sisi ekonomi makro, Purbaya menyebut potensi dampak eskalasi AS-Venezuela terhadap Indonesia relatif terbatas.
Menurutnya, Venezuela sudah lama tidak terlalu aktif di pasar minyak dunia, karena kapasitas produksinya terbatas.
Lebih lanjut, kata Purbaya, terhadap nilai tukar dampak eskalasi politik kedua negara juga belum memberikan tren yang negatif.
"Harusnya positif," imbuhnya.
Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan stabilitas makroekonomi domestik menopang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah adanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
"Penguatan IHSG hari ini lebih didorong sentimen domestik dan regional, bukan konflik AS dan Venezuela," ujar Reydi saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, bahwa pelaku pasar melihat konflik kedua negara tersebut belum berdampak sistemik terhadap pasar keuangan global, sehingga tidak memicu aksi jual yang signifikan.
Dari dalam negeri, Ia mengatakan IHSG ditopang oleh stabilitas makro, optimisme awal tahun, serta rotasi ke saham-saham sektor komoditas energi dan emas yang diuntungkan oleh ketidakpastian global.
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





































