Samut Sakhon (ANTARA) - Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul pada Kamis menyatakan kekecewaannya atas kegagalan keselamatan yang terus berulang terkait runtuhnya derek konstruksi dan menilai adanya celah hukum yang memungkinkan instansi terkait saling menghindari tanggung jawab.
Sebuah derek konstruksi runtuh di proyek jalan raya utama di selatan Bangkok pada Kamis, menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya, kata para pejabat.
“Saya telah menerima laporannya, tetapi saya masih memerlukan penjelasan lengkap mengenai detailnya,” kata Anutin kepada wartawan sambil menggelengkan kepala.
“Instansi-instansi saling menyalahkan, mengeklaim bahwa mereka tidak memiliki kewenangan untuk bertindak. Jika demikian, kita harus mengubah undang-undangnya,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Transportasi Phiphat Ratchakitprakarn dilaporkan tengah mempertimbangkan penghentian sementara seluruh proyek aktif milik kontraktor yang terlibat kecelakaan untuk dilakukan audit keselamatan.
Langkah ini menyusul kecelakaan serupa yang baru-baru ini terjadi di lokasi proyek kereta cepat di Provinsi Nakhon Ratchasima yang melibatkan kontraktor yang sama. Insiden ini mendorong pemerintah mengancam akan menghentikan sementara proyek-proyek serupa di seluruh negeri.
Kecelakaan terjadi di Jalan Rama 2, Provinsi Samut Sakhon, di lokasi pembangunan jalan tol layang yang dikelola oleh Italian-Thai Development PCL, menurut otoritas setempat.
Petugas darurat menggunakan derek berkapasitas besar untuk mengangkat lempengan beton dan besi yang bengkok dari sebuah kendaraan yang tertimpa dalam insiden tersebut guna mengevakuasi jenazah para korban.
Insiden ini memicu reaksi keras dari pemerintah Thailand karena Jalan Rama 2 telah lama menjadi lokasi sejumlah kecelakaan konstruksi besar dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber: TNA-OANA
Baca juga: Derek konstruksi roboh tabrak kereta di Thailand, 28 tewas
Baca juga: Polisi sebut besi crane jatuh sempat mengenai bagian depan kereta MRT
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

12 hours ago
1






































