Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman berpendapat pertukaran jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) tak menambah beban rupiah asal independensi bank sentral tetap terjaga.
“Selama kredibilitas institusional BI terjaga dan batas antara kebijakan fiskal dan moneter tetap jelas, isu pencalonan tidak akan berkembang menjadi faktor penekan tambahan bagi rupiah maupun stabilitas makroekonomi nasional,” kata Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurut Rizal, pasar cenderung tidak bersikap reaktif terhadap wacana pertukaran tersebut dalam jangka sangat pendek.
Pergerakan rupiah saat ini lebih banyak ditentukan oleh faktor eksternal, seperti dinamika suku bunga global, penguatan dolar AS, dan arus modal asing di pasar keuangan negara berkembang.
Karena itu, kata Rizal, tekanan rupiah saat ini tidak bisa langsung dikaitkan dengan satu isu pencalonan pejabat.
“Namun demikian, pasar tetap mencatat isu ini sebagai sinyal kelembagaan, terutama karena posisi yang akan diisi berada di jantung kebijakan moneter,” ujar dia.
Dari sudut pandang investor, Rizal menilai perhatian utama bukan terletak pada figur personal, melainkan pada implikasi terhadap independensi dan kredibilitas kebijakan moneter.
Ketika kandidat berasal dari lingkar eksekutif dan memiliki kedekatan politik, pasar cenderung mulai membentuk ekspektasi menyoal kebijakan moneter ke depan, apakah akan tetap sepenuhnya berbasis mandat stabilitas nilai tukar dan inflasi atau menjadi lebih akomodatif terhadap kebutuhan fiskal.
“Kekhawatiran ini biasanya tidak langsung tercermin dalam gejolak besar, tetapi muncul perlahan melalui sikap wait and see, peningkatan premi risiko, dan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap sentimen negatif global. Jadi dampaknya lebih bersifat akumulatif dan jangka menengah, bukan shock sesaat,” ujar dia menjelaskan.
Rizal menggarisbawahi kunci utama di tengah wacana pencalonan itu adalah penguatan kepercayaan terhadap institusi, bukan individu.
Proses seleksi perlu dilakukan secara transparan dengan penekanan kuat pada independensi bank sentral, khususnya untuk posisi yang membidangi moneter. Dengan begitu, stabilitas rupiah dan ekonomi dapat tetap terjaga.
“Di saat yang sama, BI perlu menjaga konsistensi komunikasi kebijakan agar pasar yakin bahwa arah moneter tetap berbasis data dan disiplin,” ujar dia.
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































