Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai penurunan suku bunga kredit di luar program Kredit Usaha Rakyat (KUR) mendesak dilakukan untuk mendorong ekspansi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih menghadapi berbagai tantangan pada 2026.
Menurut Bhima, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin, meski perbankan telah memperoleh kucuran likuiditas lebih dari Rp200 triliun sepanjang 2025, penyaluran kredit kepada UMKM tetap dilakukan dengan hati-hati.
Kondisi ini dinilai membuat biaya bunga (cost of financing) di luar KUR relatif tinggi dan sulit dijangkau oleh sebagian besar pelaku usaha.
“Penurunan suku bunga kredit di luar KUR juga mendesak agar beban biaya bunga (cost of financing) bisa terjangkau UMKM,” kata dia.
Selain penurunan bunga kredit komersial, Bhima juga menekankan pentingnya pemerintah memastikan agar program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap hingga 90 persen produk UMKM lokal dan memperluas penerima KUR.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2026, kredit perbankan pada November 2025 tumbuh 7,74 persen (yoy) menjadi Rp8.314,48 triliun.
Pertumbuhan terutama dikontribusikan oleh sektor pengangkutan dan pergudangan sebesar 18,33 persen, pengadaan listrik, gas, dan air 21,83 persen, industri pertambangan 11,0 persen, serta konstruksi 8,14 persen.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 17,98 persen (yoy), ditopang sektor pertambangan dan industri pengolahan.
Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 6,67 persen (yoy), kredit modal kerja 2,04 persen (yoy), dan kredit korporasi 12,06 persen (yoy). Sebaliknya, kredit UMKM justru terkontraksi 0,64 persen (yoy).
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) melanjutkan pertumbuhan tinggi mencapai 12,03 persen (yoy) menjadi Rp9.899,07 triliun.
Penurunan suku bunga perbankan juga berlanjut, dengan rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun 26 basis poin (yoy) menjadi 8,97 persen pada November 2025, terutama didorong penurunan suku bunga kredit produktif.
Baca juga: Bank masih konservatif, proyeksi kredit 2026 "single digit"
Baca juga: Menanti aliran deras dari keran moneter yang kian longgar
Baca juga: OJK: Pertumbuhan kredit 2026 diproyeksikan sedikit naik dibanding 2025
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






































