Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mengamati pergerakan rupiah yang terus melemah.
"Mengenai rupiah, tentu kami akan lihat ke depan," ujar Airlangga setelah bertemu dengan perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu.
Walaupun demikian, dia meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang baik.
"Secara keseluruhan, sebetulnya fundamental ekonomi baik dari ekspor dan juga terkait dengan devisa relatif aman," katanya.
Pada kesempatan berbeda, Bank Indonesia menilai tekanan di pasar keuangan dunia pada awal 2026 mempengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Oleh sebab itu, dia memandang kondisi tersebut mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar Amerika Serikat pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date (ytd).
“Meskipun demikian, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen,” katanya.
Baca juga: BI: Tekanan di pasar keuangan dunia pengaruhi rupiah pada awal 2026
Baca juga: Purbaya yakin rupiah bakal berbalik menguat dalam dua pekan
Pewarta: Rio Feisal
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




































