Manila (ANTARA) - Jumlah korban tewas akibat runtuhnya sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) di Kota Cebu, Filipina tengah, bertambah menjadi delapan orang seiring berlanjutnya operasi pencarian dan penyelamatan untuk 28 orang yang masih hilang pada Senin (12/1), demikian disampaikan otoritas kota tersebut.
Dalam wawancara radio, anggota Dewan Kota Cebu, Dave Tumulak, mengatakan bahwa meskipun 12 orang berhasil diselamatkan usai fasilitas tersebut runtuh pada Kamis (8/1) sore waktu setempat, 28 orang, termasuk insinyur dan pekerja lapangan, belum ditemukan hingga empat hari pascakejadian.
Tumulak menuturkan harapan realistis untuk menemukan korban selamat mulai memudar, seiring upaya penyelamatan dan evakuasi yang terhambat oleh masalah keamanan serius dan kondisi lingkungan yang berbahaya di lokasi kejadian.
Tim penyelamat dengan hati-hati membersihkan reruntuhan menggunakan ekskavator, dan crane berkapasitas 50 ton, sembari menghadapi bahaya yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah yang tidak stabil serta terus mengeluarkan gas metana dan karbon.
Otoritas setempat memperingatkan bahwa memotong logam menggunakan obor asetilena di lingkungan yang dipenuhi metana sangat berbahaya karena tingginya risiko kebakaran dan ledakan, mengingat kedua gas tersebut sangat mudah terbakar dan mudah tersulut.
Insiden ini memaksa Kota Cebu untuk menghentikan sementara operasi pembuangan sampah di fasilitas itu, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai volume sampah harian yang terus meningkat, tutur Tumulak.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
1



































