Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono, menyampaikan kembali dukungan Indonesia kepada Turki sebagai mitra wicara (dialogue partner) Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) guna meningkatkan keterlibatan negara tersebut di kawasan Asia Tenggara.
"Kami menyambut aspirasi Turki menjadi mitra wicara penuh ASEAN, dan kami siap memberi dukungan penuh," kata Sugiono dalam pernyataan pers bersama usai acara Dialog 2+2 Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia-Turki, di Ankara, Turki, Jumat (10/1).
Menlu Sugiono menyebut bahwa dalam dialog 2+2 tersebut, delegasi Indonesia dan Turki saling bertukar pandangan dan informasi terbaru soal kawasan masing-masing serta posisi diplomasi nasional di forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan ASEAN.
Menyimpan niat panjang
Sekilas, dukungan Indonesia terhadap aspirasi Turki sebagai mitra wicara ASEAN terlihat sederhana. Sekadar pernyataan pers, sekadar kalimat diplomatik. Tapi, dalam urusan politik luar negeri, kalimat yang paling tenang sekali pun kerap menyimpan niat paling panjang.
Maka, dukungan ini bukan semata urusan Turki dan status kemitraannya di ASEAN. Ia juga mencerminkan cara Indonesia membaca dunia hari ini, yakni tidak ingin terseret ke persaingan kekuatan besar -- Amerika Serikat (AS) di satu sisi, China dan sekutunya di sisi lain -- namun juga tidak memilih menjauh dari keduanya. Dalam bahasa diplomasi, sikap inilah yang -- dahulu -- kerap disebut non-blok.
Dalam teori middle power diplomacy, Indonesia dan Turki memiliki satu kesamaan. Keduanya tidak cukup besar untuk mendikte dunia, tapi terlalu besar untuk diabaikan. Di posisi serba tanggung itulah kreativitas diplomasi kedua negara diuji.
Andrew Cooper, akademisi dari The Balsillie School of International Affairs and the Department of Political Science, yang banyak menulis soal diplomasi negara middle power, menyebut middle power cenderung bermain di celah, mengisi ruang yang tak dijaga negara besar. Saat ini, celah itu bernama Global South. Istilah ini, yang dulu terasa seperti jargon seminar, sekarang telah menjelma menjadi identitas politik yang makin percaya diri.
Indonesia dikenal sejak lama membawa semangat Bandung (Bandung spirit) dan Gerakan Non-Blok. Adapun Turki membawa pengalaman unik, yaitu sekutu Barat yang sering berdebat dengan Barat. Dua latar berbeda, tapi sama-sama paham rasanya berada di antara.
Non-blok hari ini jelas bukan berarti netral total. Dunia terlalu ribet untuk disikapi seperti itu. Yang perlu dijaga adalah fleksibilitas, agar pilihan-pilihan tetap tersedia saat dibutuhkan.
Evelyn Goh, profesor di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, yang kerap membedah strategi negara-negara Asia di tengah persaingan raksasa dunia, menyebut strategi ini sebagai hedging. Artinya, tidak mengikatkan diri pada satu kekuatan saja, tapi tetap aktif menjaga hubungan ke berbagai arah.
Nah, Indonesia sudah lama mempraktikkan hedging itu. Ia berteman dengan AS, berdagang dengan China, bersuara di Global South. Turki kini mulai melakukan hal serupa, tapi dengan gaya yang lebih frontal.
Maka, dalam kerangka itulah, dukungan Indonesia terhadap Turki sebagai mitra wicara ASEAN bisa dibaca dan dipahami. Dengan demikian, ini bukan sekadar soal satu negara, melainkan tentang bagaimana Indonesia menjaga ruang geraknya di kawasan.
Turki memiliki latar belakang yang berbeda dari mitra ASEAN lainnya. Negara ini punya pengalaman berhubungan dengan Eropa, Timur Tengah, dan dunia Islam. Itu semua bisa memperkaya cara ASEAN dalam melihat dunia dewasa ini.
Baca juga: Indonesia dukung Turki jadi mitra wicara terbaru ASEAN
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

6 hours ago
1



































