Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menyampaikan bahwa pemerintah perlu membuat kebijakan yang disesuaikan (customized policy) untuk menarik lebih banyak investor masuk ke Indonesia.
“Kita punya banyak natural resources (sumber daya alam), tetapi sekali lagi kenapa mereka investor ini tidak terlalu tertarik ya untuk datang ke Indonesia, mungkin karena, yang pertama, paket kebijakannya itu tidak customized (disesuaikan),” kata Esther Sri Astuti di Jakarta, Senin.
Ia menuturkan, pemberian keringanan pajak melalui program tax holiday, tax incentive, maupun tax reduction untuk menarik investasi asing tidak lagi sepenuhnya efektif dan relevan diterapkan saat ini.
Ia menyatakan, investor global kini lebih mementingkan kepastian usaha, ketersediaan infrastruktur yang memadai, dan kualitas tenaga kerja di negara tujuan investasi.
Oleh karena itu, Esther menilai penerapan kebijakan yang lebih sesuai untuk mendukung sektor bisnis yang diminati oleh investor jauh lebih dibutuhkan, dibandingkan hanya sebatas insentif pajak.
“Investor ini butuh hal yang lain, misalnya infrastrukturnya itu harus relatif firm (andal) dulu. Harus ada semua, ada gas, ada listrik, ada air bersih, sehingga mereka bisa bangun pabrik di situ,” jelasnya.
Begitu pula pada sektor pariwisata, ia mengatakan investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi di daerah wisata yang terkoneksi dengan jalur transportasi, terutama penerbangan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan kemampuan (skill) yang dibutuhkan oleh industri.
“Pasar tenaga kerja (domestik) rapuh karena sebagian besar tenaga kerja sekarang itu lebih didominasi oleh pekerja yang ada di sektor informal. Nah, ini macam-macam faktornya, ada karena skill mismatch (ketidakcocokan keterampilan) dan ada juga karena tingkat pendidikan,” ujar Esther.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF Imaduddin Abdullah menambahkan bahwa penguatan riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) juga perlu didorong untuk menarik investasi asing.
Ia mengatakan, inovasi dari hasil R&D tersebut dapat meningkatkan adopsi teknologi dan produktivitas sektor industri nasional sehingga meyakinkan investor untuk menanamkan modal mereka di Indonesia.
Tanpa inovasi dan efisiensi biaya operasional, ia menilai kemampuan Indonesia untuk menarik investasi asing akan kalah dari negara-negara tetangga.
“Kalau tidak (menerapkan R&D), saya pikir Indonesia tidak akan bisa keluar dari upper middle-income trap gitu ya,” tutur Imaduddin Abdullah.
Baca juga: Ekonom optimis ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,2 persen pada 2026
Baca juga: Ekonom optimis FDI di 2026 solid, masih ditopang industri logam dasar
Baca juga: Menperin sebut arus investasi asing semakin kuat ke manufaktur
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































